4 tahun yang lalu

Posted in Uncategorized

~Holiday in the home~

hari pertama dirumah bener-bener efektif. udah semaleman curhat sama mama-papa, bener-bener ngungkapin unek-unek dihati, ngungkapin keinginan-keinginan yang selama ini takut buat dibilangin, finally, clear diungkapin sampe ngebusaaaa… lalalalalala

Bangun tidur, langsung beres-beres rumah, siapin sarapan buat adik-adik yang mau berangkat sekolah.. aah rasanya sudah lama gak melakukan kegiatan ini, mungkin untuk beberapa kali saja saya merindukannya.. hehe.. sebab-akibat saya sudah memiliki 2 orang bocah keponakan yang masih kecil-kecil caberawit, ya tugas saya adalah I wanna be a babysitter.. yuhuuuuu

Hey, cerita utamanya bukan bagaimana saya seharian dirumah. tapi bagaimana saya menemukan sesuatu yang sudah lama saya kubur. bukan barang atau suatu foto, tapi itu adalah sebuah lagu bersejarah untuk saya. Gak sengaja aja pengen nyetel lagu di komputer ihsan (adik laki-laki), sambil ngerandom playlist-playlistnya. And, then sampailah berputarnya sebuah lagu yang sudah hampir kurang lebih 4 tahun tidak saya putar dan tidak sama sekali mencoba sengaja mencari lagu ini. Lagu ini adalah soundtrack filmnya The Chronicles Of Narnia-Prince Caspian, diputer ketika susan berpisah sama prince caspian. Romantis gitu kesannya mungkin karna acting mereka yang bagus atau mungkin karna lagunya emang pas dan entah kenapa ketika denger lagu itu rasanya “Cekiiiiit….jleb”….  :’) Lirik dan memang musiknya itu pas, menurut saya pribadi sih. Dan kebetulan pas denger lagu itu, saya sedang merasakan apa yang digambarkan sama lagu itu.

The Call – Regina Spector

It started out as a feeling

Which then grew into a hope

Which then turned into a quiet thought

Which then turned into a quiet word

And then that word grew louder and louder

‘Til it was a battle cry

I’ll come back when you call me

No need to say goodbye

Just because everything’s changing

Doesn’t mean it’s never been this way before

All you can do is try to know who your friends are

As you head off to the war

Pick a star on the dark horizon and follow the light

You’ll come back when it’s over

No need to say goodbye

You’ll come back when it’s over

No need to say goodbye

Now we’re back to the beginning

It’s just a feeling and no one knows yet

But just because they can’t feel it too

Doesn’t mean that you have to forge

tLet your memories grow stronger and stronger

‘Til they’re before your eyes

You’ll come back when they call you

No need to say goodbye

You’ll come back when they call you

No need to say goodbye

Untuk saya, lagu ini itu alurnya maju sama mundur. Maksudnya, diawali perasaan dan diakhiri dengan mengucapkan say goodbye. Tapi lagu ini bner-bener kasih alasan walaupun kamu udah pergi dan akan meninggalkan saya, saya benar-benar tidak membutuhkan kata say goodbye :’)

MULTIKULTURALISME DALAM KONSELING SEKOLAH

Posted in Edukasi

Untuk Memenuhi Ujian Tengah Semester Kelompok Mata Kuliah Bimbingan dan Konseling Populasi Khusus (PB317) yang Diampu Oleh : Dr.H. Mamat Supriatna, M.Pd.

Oleh Kelompok 1:

Elis Ajizah                         (0900367)

Niken Nur Anisa               (0900768)

Anisah Fadhilah               (0900965)

Yussi Herdiyanti               (0901043)

Rizky Restiani                   (0901125)

Nurul Fahmi                      (0901577)

 

BAB I

PENDAHULUAN

 A.  Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang terdiri dari beragam budaya yang berbeda-beda. Keragaman yang dimiliki Indonesia, di satu sisi adalah merupakan anugrah yang sangat berharga dan harus dilestarikan, akan tetapi keragaman ini di sisi lain diakui atau tidak adalah sebuah tantangan karena di dalamnya akan dapat menimbulkan berbagai persoalan, seperti kolusi sesama etnis, nepotisme, kemiskinan, perusakan lingkungan, separatisme, dan dan yang lebih menghawatirkan adalah akan hilangnya rasa kemanusiaan untuk menghormati hak-hak orang lain, yang merupakan bentuk nyata sebagai bagian dari multikulturalisme tersebut, maka tidak dapat dipungkiri lagi bahwa penting adanya kesadaran multikultural.

Multikulturalisme adalah “pengakuan pluralism budaya yang menumbuhkan kepedulian untuk mengupayakan agar kelompok-kelompok minoritas terintegrasi ke dalam masyarakat dan masyarakat mengakomodasi perbedaan budaya kelompok-kelompok minoritas agar kekhasan identitas mereka diakui” (Kymlika dalam Haryatmoko, 2006: 1).

Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia, Moh. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural, bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika, yaitu kesamaan di atas keragaman. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik.

B.  Rumusan Masalah

  1. Bagaimana konsep dasar mengenai multikulturalisme ?
  2. Bagaimana multikulturalisme di Amerika ?
  3. Bagaimana multikulturalisme di Indonesia ?
  4. Bagaimana peranan konselor dalam menghadapi masyarakat yang multikultural?

 C.    Tujuan Penulisan

  1. Untuk memahami konsep dasar multikulturalisme.
  2. Untuk mengetahui multikulturalisme di Negara Amerika.
  3. Untuk mengetahui multikulturalisme di Negara Indonesia.
  4. Untuk memahami peranan konselor dalam menghadapi masyarakat yang multikultural.

 BAB II

MULTIKULTURALISME DALAM KONSELING DI SEKOLAH

 A.  MULTIKULTURALISME DI AMERIKA

Diversifikasi meningkatnya masyarakat AS telah menciptakan tantangan bagi konselor pada umumnya dan konselor sekolah dalam prakteknya, masyarakat AS dalam kelompok ras dan etnis (VREGs : Visible racial and ethnic group). Konselor yang dimaksud adalah konselor sekolah dengan kompetensi multikultural, dengan semua pengetahuan dan pemahaman serta kepekaan yang masuk dan bekerja secara efektif dengan siswa dari budaya yang berbeda, mereka harus memiliki kemampuan untuk mempertahankan dan mempengaruhi struktur sosial yang memberikan hak istimewa. Sehingga dinamika multikulturalisme ini merupakan faktor penting dalam masyarakat dan di sekolah kita.

 1.      KERAGAMAN: KEADAAN MANUSIA

Konselor sekolah harus memahami perbedaan kekuasaan dalam masyarakat dan dimensi sociohistorical ras dari mana mereka berasal. Bagaimana diferensial kekuasaan dimainkan, tidak hanya dalam proses konseling tetapi juga dalam sistem pendidikan, sehingga memiliki konsekuensi penting bagi konselor sekolah yang bekerja dengan siswa dengan perbedaan warna kulit.

Salah satu sumber utama perbedaan budaya dalam kelompok adalah akuisisi kedua ketika orang-orang dari budaya yang dominan datang ke dalam kontak berkelanjutan dengan orang dari budaya yang dominan, mereka mengalami proses adaptasi budaya belajar untuk hidup dalam budaya yang berbeda dari mereka sendiri.

Konselor sekolah yang bekerja dengan anak dan keluarganya adalah pemahaman tentang proses dan kesadaran bahwa anak-anak dan orang tua mereka mungkin memiliki sangat berbeda, bahkan bertentangan bentuk adaptasi budaya. Masuknya VREG siswa di sekolah adalah kesempatan untuk memperkaya pengalaman dari semua siswa. Bentuk-bentuk dari adaptasi budaya, antara lain : Asimilasi, Integrasi, Bikulturalisme (pergantian), Penolakan, Marjinalitas.

2.      MULTIKULTURAL KONSELING KELOMPOK RASIAL

Konseling multikultural adalah satu lagi istilah yang memicu perdebatan Di bidang konseling. Beberapa sarjana percaya bahwa istilah harus disediakan untuk bekerja dengan orang kulit berwarna saja (lihat, misalnya, Locke, 1997). Kami percaya bahwa konseling multikultural menganggap serius dan sensitif semua aspek keragaman manusia tapi, diberikannya status khusus untuk balapan, yaitu ras adalah penentu utama dari budaya.

Pada bagian ini kita meneliti pola-pola budaya dan implikasinya untuk konseling dari White Amerika, Afrika Amerika, Hispaisic Amerika, Asia Amerika, dan penduduk asli Amerika. Organisasi bagian ini tidak dirancang untuk mengecualikan grup manapun. Namun, yang dimaksudkan untuk menyoroti keunggulan ras dalam konseling multikultural.

3.      AMERIKA AFRIKA

Kelompok ras Afrika Amerika sangatlah beragam dalam hal kelas sosial ekonomi, pendidikan, ras-identitas status (hubungan dengan White culture), dan struktur keluarga. Sekitar 35 persen orang Amerika Afrika kelas menengah atau lebih tinggi (DW Sue & Sue, 2003). Hal ini penting karena status sosial ekonomi merupakan variabel penting dalam menentukan tingkat asimilasi ke dalam White culture (Hildebrand, Phenice, Gray, & Hines, 1996). Namun Afrika Amerika terus memegang status minoritas di negeri ini. Sebagai bukti, Sue dan Sue arahkan ke berikut.

  1. Tingkat Amerika Afrika hidup dalam kemiskinan adalah tiga kali lebih tinggi dari Putih Amerika.
  2. Tingkat pengangguran adalah dua kali lebih tinggi di antara Afrika Amerika.
  3. Sekitar sepertiga dari pria Afrika Amerika di usia dua puluhan adalah di penjara, masa percobaan atau bersyarat
  4. Kehidupan di Afrika Amerika adalah lima sampai tujuh tahun lebih pendek dari orang kulit Putih Amerika.

Implikasi Konseling

Helms (1984) mendefinisikan empat kemungkinan jenis hubungan antara konselor berkulit Putih dan klien kulit Hitam (atau sebaliknya); paralel, progresif, regresif, dan disilangkan. Hubungan paralel adalah satu di mana konselor dan klien berada pada tingkat yang sama ras-identitas pembangunan. Dalam hubungan yang progresif, konselor setidaknya satu tingkat lebih tinggi dari klien. Dalam hubungan regresif, konselor setidaknya satu tingkat lebih rendah dari klien. Akhirnya, dalam hubungan disilangkan, konselor dan klien memiliki sikap yang saling bertentangan.

4.      ASIA AMERIKA

Asia Amerika adalah kelompok minoritas yang paling cepat berkembang 20,6 juta penduduk di negara-negara Serikat. Asia Amerika adalah kelompok  yang sangat heterogen, dengan tersebar sedikitnya  di 29 negara di Asia dan Kepulauan Pasifik, semua menggunakan dengan bahasa mereka sendiri, adat istiadat, dan agama (D. Sue1998).

Pola budaya, Meskipun banyak perbedaan yang ada antara Amerika Asia, pada beberapa pola budaya yang luas telah diidentifikasi.

a)      Ketaatan atau kepatuhan kepada orang tua.

b)      Familial Interdependensi

c)      Sistem patriarchal

d)      Menahan Emosi

e)      Komunikasi Konteks Tinggi

Helms dan Model cook (1999) dapat digunakan dengan Asia Amerika. Selain itu, Atkinson et al. (1998) mengusulkan pengembangan Minority Identity Development (MID) model yang dapat berguna dalam memahami hubungan kelompok Amerika Asia mereka itu sendiri dan budaya yang dominan. Model MID ini mendefinisikan sikap responden tidak hanya terhadap kelompok dominan tetapi juga terhadap kelompok-kelompok minoritas lainnya.

Konsultasi dengan Guru

Hubungan konselor dan guru selalu penting ketika seorang siswa yang mengalami masalah akademis. Hal ini bahkan lebih penting ketika siswa adalah anggota dari kelompok minoritas. Ada dasar bahwa budaya untuk belajar dan sekolah kepribadian Negara Selors harus peka terhadap konflik antara gaya mengajar Eurocentric tradisional dan cara siswa dari budaya lain belajar. Vazquez (1998) menyarankan tiga langkah prosedur untuk mengadaptasi instruksi untuk ciri-ciri budaya. Konselor sekolah dapat memainkan peran dalam setiap langkah prosedur, khususnya dengan membantu guru mengidentifikasi ciri-ciri budaya siswa dan kemudian membantu mereka untuk beradaptasi.

Konseling Siswa

Catatan sekolah merupakan sumber informasi berharga tidak hanya pada prestasi, tetapi juga pada latar belakang keluarga, hasil tes psikologis, dan penilaian guru pada para pelaja.
Berkonsultasi dengan Orangtua

Berkonsultasi dengan orang tua memberikan informasi berharga tentang sejarah psikososial anak; lebih penting, ia melibatkan orang tua dalam pendidikan anak mereka. Penelitian telah menunjukkan bahwa orang tua terlibat dalam pendidikan anak mereka, penciptaan lingkungan belajar di rumah, dan harapan akademik positif memiliki dampak yang signifikan terhadap prestasi siswa (Henderson, 1987).Tetapi ketika orang tua imigran, miskin, atau orang kulit berwarna, membuat mereka terlibat dalam sebuah kolaborasi dengan sekolah dapat menantang.

Memperkenalkan Kesadaran Multikultural

Konselor sekolah, karena dari pelatihan mereka dan kepekaan terhadap isu-isu keragaman, terutama dilengkapi dengan baik untuk meningkatkan kesadaran multikultural di sekolah. Seringkali proses ini yang tidak resmi, hanya memperkenalkan isu-isu ras dan budaya ke dalam percakapan dengan guru dan anggota staf lain. Kuncinya adalah memiliki pengetahuan tetapi tidak mengancam. Tapi lebih penting dari kesempatan yang diberikan oleh pertemuan individu adalah peluang untuk mengembangkan program untuk meningkatkan multikulturalisme di seluruh sekolah.

L.S. Johnson (1995) mengusulkan bahwa konselor sekolah membantu mendirikan sebuah dewan penasehat multikultural dalam sistem sekolah untuk bertanggung jawab mengidentifikasi isu-isu keragaman. Dewan harus mewakili bagian-lintas dari kelompok ras dan etnis dan fungsi (administrator, guru, orang tua, mahasiswa, dan tokoh masyarakat). Setelah dewan mengidentifikasi bidang keprihatinan, para anggota dapat mulai menetapkan tujuan dan sasaran dan rencana kegiatan pertemuan mereka. Misalnya, dewan prihatin kesadaran multikultural di antara anggota staf sekolah. Dewan mungkin merekomendasikan serangkaian lokakarya pengembangan staf yang dipimpin oleh otoritas pada multikulturalisme. Lokakarya ini bisa memiliki tujuan dua dimensi, pengetahuan diri dan orang lain. Melalui rasial identitas latihan, guru dan anggota staf lain dapat memahami dinamika diferensial kekuasaan di antara ras dan etnis.

Persiapan Postsecondary

Persiapan postsecondary siswa dari latar belakang budaya minoritas merupakan tantangan khusus. Seringkali para siswa kekurangan peran model dan pemahaman yang kuat tentang bagaimana mempersiapkan untuk kehidupan setelah SMA. Konselor sekolah dapat memainkan peran penting dengan siswa ini dengan menyediakan mereka dengan informasi yang akurat dan menunjukkan kepada mereka bagaimana aspirasi mereka dapat menjadi kenyataan.

Kebutuhan Informasi yang Akurat

Realitas memiliki banyak hubungannya dengan mempersiapkan siswa dari berpenghasilan rendah dan minoritas kelompok untuk kehidupan setelah SMA. Sangat penting, bahwa konselor sekolah, khususnya di sekolah dasar, mengekspos siswa minoritas untuk orang-orang yang nyata melakukan berbagai pekerjaan nyata. Sama penting adalah kunjungan ke sebuah kampus, di mana anak-anak dapat berbicara dengan mahasiswa dan seorang professor.

Konselor sekolah bekerja sama dengan siswa dari budaya minoritas harus membangkitkan para siswa tentang peluang karier mereka dan menyediakan mereka dengan informasi yang akurat tentang pekerjaan yang terlibat dalam membuat peluang tersebut menjadi kenyataan.

Sekolah untuk Masa Peralihan Kerja

Sejumlah besar siswa minoritas tidak melanjutkan ke perguruan tinggi setelah lulus. Konselor sekolah harus yakin bahwa siswa ini meninggalkan sekolah tinggi dengan pengetahuan dan keterampilan yang mereka butuhkan untuk bekerja pada pekerjaan yang baik. Jika seorang siswa mengatakan dengan serius bahwa dia ingin pergi ke perguruan tinggi, konselor sekolah dan sekolah harus melakukan yang terbaik untuk membuat itu terjadi. Tapi konselor sekolah dan sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk mereka yang tidak kuliah yang terikat.

Isu-isu Etis dan Hukum

Sebagian besar materi dalam bab ini dirancang untuk membantu konselor sekolah memahami sosialisasi budaya mereka sendiri dan bahwa dari kelompok ras atau etnis utama di Amerika Serikat. Pemahaman ini bukanlah pilihan, ini adalah tanggung jawab etis.

Konselor sekolah profesional memahami latar belakang budaya yang beragam dari konseli dengan siapa laki-laki/perempuan bekerja. Ini mencakup, namun tidak terbatas pada, belajar bagaimana konselor sekolah sendiri memiliki dampak  identitas budaya/etnis atau nilai-nilainya dan keyakinan tentang proses konseling. (American School Counselor Association, 1998)

Arrendondo dkk (1996) menyempurnakan definisi ini dalam deskripsi mereka kompetensi konseling multikultural yang disusun di sekitar tiga dimensi (keyakinan/sikap, pengetahuan dan keterampilan), yang masing-masing memiliki tiga karakteristik (konselor, kesadaran asumsi sendiri, nilai-nilai dan bias; memahami pandangan dunia konseli; dan mengembangkan strategi intervensi tepat dan teknik). Praktik  etis mewajibkan konselor untuk melihat budaya sebagai bagian penting dari proses konseling dan untuk mengenali perbedaan antar kelompok (Welfel, 2002).

KESIMPULAN

Isu-isu keragaman budaya mempengaruhi semua siswa. Konflik antara budaya minoritas mahasiswa asal dan budaya yang dominan dapat memiliki dampak yang signifikan pada pengalaman pendidikan mereka dan sosial di sekolah. Karena efek dari rasisme dan diskriminasi begitu luas, konselor sekolah harus mempertimbangkan cara-cara untuk melipatgandakan layanan mereka dengan mengembangkan program-program untuk mencapai semua anak. Tentu saja, jika dipaksa untuk membuat pilihan karena beban kasus besar, maka konselor harus memusatkan energi mereka pada mereka yang paling berisiko untuk tidak mencapai potensi mereka. Bab ini telah menjelaskan kedua kelompok yang paling beresiko untuk kegagalan dan konsekuensi jangka panjang dari kegagalan itu. Mempromosikan multikulturalisme adalah sebuah tantangan. Tetapi juga merupakan kesempatan bagi konselor sekolah untuk terlibat dalam membantu semua siswa, apa pun warna atau status social ekonomi, untuk belajar dan untuk mencapai pendidikan dan itu bisa membuat perbedaan besar dalam kehidupan seorang anak.

B.  MULTIKULTURALISME DI INDONESIA

Indonesia termasuk Negara besar di kawasan Asia Tenggara yang terdiri atas ratusan pulau memiliki beragam etnik (suku) yang hidup dan berkembang dengan tradisi serta keyakinan religius yang unik sehingga lahir corak budaya bebeda satu sam lain. Kemajemukan budaya atau multibudaya dalam pandangan postmodernisme dikenal dengan istilah multikulturalisme.

Paham multikulturalisme diperkenalkan pertama kali pada tahun 1960 oleh ahli Sosiologi Kanada, yaitu Charles Hobart. Sebuah kenyataan bahwa bangsa Indonesia terdiri dari kolektifitas kelompok-kelompok masyarakat yang bersifat majemuk. Dari segi etnitasnya terdapat 656 suku bangsa (Hidayat, 1997) dengan tidak kurang dari 300 jenis bahasa-bahasa daerah, dan di Irian Jaya saja lebih 200 bahasa-bahasa sukubangsa (Koentjaraningrat,1993). Penduduknya sudah mencapai 200 juta, yang menempatkan Indonesia pada urutan keempat dunia.

Tatanan dan sejarah pembentukannya memiliki arti strategik, dilihat dari geopolitik perkembangan bangsa-bangsa di dunia, khususnya Asia Tenggara. Salah sati ciri benua maritim Indonesia, lautannya mengandng suber daya alam yang kaya. Demikian juga wilayah pesisirnya, dimana hgaris pentainya sepanjang 81.000 km itu beranekaragam dan sangat besarpotensi budidaya laut. Geografi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar memiliki keunikan budaya, terlebih jika dikaitkan dengan letah dalam peta dunia.

Wilayah lingkungan utama kehidupannya juga memperlihatkan variasi yang berbeda-beda. Ada komunitas yang mengandalkan pada laut sebagai sumber kehidupannya seperti orang Bajo. Orang-orang Bugis-Makasar, Bawean, dan Melayu dikenal sebagai masyarakat pesisir; serta terdapat pula komunitas-komunitas pedalaman, antara lain orang Gayo di Aceh, Tengger di Jawa Timur, Toraja di Sulawesi Selatan, Dayak di Kalimantan, dan lain sebagainya. Karakter pluralistik itu ditambah lagi dengan perbedaan-perbedaan tipe masyarakatnya. Sesung-guhnya multikultural tersebut sebagai suatu keadaan obyektif yang dimiliki bangsa Indonesia. Tetapi kemajemukan itu tidak menghalangi keinginan untuk bersatu! Paling tidak, beberapa daerah yang tergolong “termaginalkan” yang sempat kami kunjungi pada rentang tahun 1999 – 2002 untuk proses pendi-dikan masyarakatnya, adanya suatu harapan untuk berpikir maju, walaupun dengan tataran yang masih sederhana.

Sejarah Indonesia memperlihatkan bahwa pada tahun 1928, ikrar “Sumpah Pemuda” menegaskan tekad untuk membangun nasional Indonesia. Mereka bersumpah untuk berbangsa, bertanah air, dan berbahasa satu yaitu Indonesia. Ketika merdeka dipilihnya bentuk negara kesatuan. Kedua peristiwa sejarah ini menunjukan suatu kebutuhan yang secara sosio-politis merefleksi keberadaan watak pluralisme tersebut. Kenyataan sejarah dan sosial budaya tersebut lebih diperkuat lagi melalui ari simbol “Bhineka Tunggal Ika” yaitu “berbeda-beda dalam kesatuan” pada lambang negara Indonesia.

Struktur masyarakat Indonesia sebagaimana telah kita ketahui dapat menimbulkan persoalan tentang bagaimana masyarakat Indonesia terintegrasi pada tingkat nasional. Untuk menjelaskan hal tersebut, penulis mencoba untuk menelaah kembali beberapa kharakteristik yang dapat kita kenali sebagai sifat dasar dari suatu masyarakat majemuk, sebagaimana yang dikemukakan oleh Nasikun yakni; 1) terjadinya segmentasi ke dalam bentuk kelompok-kelompok yang seringkali memiliki kebudayaan, atau lebih tepat sub-kebudayaan, yang berbeda satu sama lain; 2) memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat dasar; 3) kurang mengembangkan konsensus di antara para anggota masyarakat tentang nilai-nilai sosial yang bersifat dasar; 4) secara relatif seringkali terjadi konflik antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain; 5) secara relatif integrasi sosial tumbuh di atas paksaan (coercion) dan saling ketergantungan di dalam bidang ekonomi; serta 6) adanya dominasi politik suatu kelompok atas kelompok-kelompok yang lain.

Dalam pandangan fungsionalisme struktural untuk mewujudkan sistem sosial itu dapat terintegrasi dari berbagai multikultural terdapat 2 landasan pokok, yakni pertama, suatu masyarakat senantiasa terintegrasi di atas tumbuhnya konsensus diantara sebagian anggota masyarakat akan nilai-nilai kemasyara-katan yang bersifat fundamental. Kedua, suatu masyarakat senantiasa terintegrasi juga oleh karena berbagai anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota dari berbagai kesatuan sosial (cross-cutting affiliations). Oleh karena itu setiap konflik yang terjadi diantara suatu kesatuan sosial dengan kesatuan-kesatuan sosial yang lain segera akan dinetralisir oleh adanya masyarakat terhadap berbagai kesatuan sosial.

Pada tingkat tertentu keduanya mendasari terjadinya integrasi sosial di dalam masyarakat yang bersifat majemuk. Oleh karena tanpa keduanya suatu masyarakat bagaimanapun tidak mungkin terjadi. (Nasikun, 2000). Akan tetapi sifat-sifat masyarakat majemuk sebagaimana yang kita uraikan di atas, telah menyebabkan landasan terjadinya integrasi sosial. Dalam hal ini sedikitnya ada dua macam konflik yang mungkin dapat terjadi yakni; 1) konflik di dalam tingkatannya yang bersifat ideologis, dan 2) konflik di dalam tingkatannya yang bersifat politis. Pada tingkatan ideologis bentuk konfliknya adanya pertentangan sistem nilai yang dianut di dalam masyarakat tersebut. Sedangkan tingkatan politis bentuk konfliknya berupa pertentangan di dalam pembagian status kekuasaan, dan sumber-sumber ekonomi yang terbatas di dalam masyarakat.

Sedangkan konflik horisontal rentan terjadi ketika dalam interaksi sosial, antar kelompok yang berbeda tersebut dihinggapi semangat superrioritas. Yakni semangat yang menilai bahwa kelompok (insider) nya adalah paling benar, paling baik, paling unggul serta paling sempurna. Sementara kelompok lain (outsider) tidak lain hanyalah sebagai pelengkap (komplemeter) dalam hidup ini. Untuk itu, outsider layak untuk dihina, dilecehnya dan dipandang kurang berarti.

Puncak dari semangat egosentrisme etnostrisme chauvisme tersebut adalah muculnya klaim-klaim kebenaran. Klaim kebenaran ini tidak lain adalah  kelainan jiwa yang disebut narsisme. Dimana seseorang atau kelompok-kelompok masyarakat menganggap bahwa  dirinya paling sempurna dibanding yang lain. Dalam relasi sosial,  gesekan klaim kebenaran  ini kemudian melahirkan standar ganda.

Bisa dibayangkan, bagaimana kelompok-kelompok yang dihingapi narsisme ini kemudian berinterasi dalam domain sosial. Maka yang muncul adalah konflik-konflik bernuansa SARA. Tidak disangsikan, sejarah bangsa telah membuktikan itu. Mulai pertengahan dekade 90-an  sampai dekade 2000-an, kita disuguhi aneka tragedi kenuansaan bernuansa SARA. Tragedi Poso, Sambas Banyuwangi, Sitobundo, Madura, serta Aceh adalah fakta yang tak terbantahkan bagaimana dalam lingkaran sosial bangsa indonesia masih kokoh semangat narsistik-egosentris. Bahkan fakta paling mutakhir adalah bergolaknya konflik bernuansa Agama di ambon.

Di dalam situasi konflik akibat multikultural tersebut, pada umumnya setiap pihak yang berselisih akan berusaha mengabadikan diri dengan cara memperkokoh solidaritas di antara sesama anggotanya. Dalam kaitan dengan sejarah, ternyata para kaum penjajah sengaja mempertantangkan perbedaan-perbedaan yang terjadi dalam budaya masyarakat Indonesia, sebagai upaya untuk mengikiskan persatuan dan kesatuan dari berbagai daerah. Jika tidak bersatu dan selalu dipertentangan pada demensi multikultural, maka negara penjajah akan mudah untuk mendikte bangsa Indonesia.

Dalam pengembangan konsep utuh bimbingan di Indonesia, perlu diperhatikan komponen-komponen perbedaan budaya. Apalagi Indonesia dikenal dengan keragaman yang kompleks baik segi demografis, sosial-ekonomis, adat-istiadat, maupun latar budayanya. Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan bangsa Indonesia dalam perspektif konseling lintas budaya, layaknya dikembangkan dimensi wawasan kebhinnekaannya dalam kerangka penegasan karakteristik keikaan yang kuat.

1.      Multikulturalisme Indonesia di Sekolah

Pendidikan yang dimaksud hendaknya menegaskan dimensi-dimensi keragaman dan perbedaan. Dengan kata lain,kecenderungan pendidikan yang berwawasan lintas budaya sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia abad-21. Supriatna (2011:168) mengatakan bahwa Suatu masalah yang berkaitan dengan lintas budaya adalah bahwa orang mengartikannya secara berlain-lainan atau berbeda, yang mempersulit untuk mengetahui maknanya secara pasti atau benar. Dapat dinyatakan, bahwa konseling lintas budaya telah diartikan secara beragam dan berbeda-beda; sebagaimana keragaman dan perbedaan budaya yang memberi artinya.

Andersen dan Cusher (1994:320) mengatakan bahwa pendidikan multikultural adalah pendidikan mengenai keragaman kebudayaan. Senada dengan itu Banks (1993:3) menyatakan bahwa pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk people of color. Artinya pendidikan multikultural ingin mengeksplorasi perbedaan sebagai keniscayaan. Kemudian memberi apresiasi atas perbedaan dengan semangat egaliter.

Sebaiknya sistem pendidikan nasional juga mengadopsi pendidikan multikulturalisme untuk diberlakukan dalam pendidikan sekolah, dari tingkat SD sampai dengan tingkat SMA. Multikulturalisme sebaiknya termasuk dalam kurikulum sekolah, dan pelaksanaannya dapat dilakukan sebagai pelajaran ekstra-kurikuler atau menjadi bagian dari kurikulum sekolah.

Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia, Moh. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural, bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika, yaitu kesamaan di atas keragaman. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik.

Dalam, Supriatna (2011:169), Konseling lintas budaya adalah pelbagai hubungan konseling yang melibatkan para peserta yang berbeda etnik atau kelompokkelompok minoritas; atau hubungan konseling yang melibatkan konselor dan klien yang secara rasial dan etnik sama, tetapi memiliki perbedaan budaya yang dikarenakan variabel-variabel lain seperti seks, orientasi seksual, faktor sosio-ekonomik, dan usia (Atkinson, Morten, dan Sue, 1989:37).

 BAB III

UPAYA PENANGANAN SISWA YANG MENGALAMI KESULITAN DALAM PENYESUAIAN DIRI AKIBAT PERBEDAAN BUDAYA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS

 A.  DESKRPSI MULTIKULTURALISME

1.    Pengertian Multikultural (Multiculture)

Dalam ensiklopedia Americana “Culture is the whole complex of ideas and things and activities produce by man in their historial experience” (Kebudayaan adalah seluruh hasanah gagasan dan benda-benda yang dihasilkan manusia sepanjang sejarah).

Menurut Wissler, 1929 secara normatif, budaya adalah tatanan kehidupan yang ditekuni oleh kelompok dianggap sebagai kebudayaan. Yang mencakup tatanan masyarakat, kebudayaan sesuatu puak/suku (tribe) adalah keseluruhan kepercayaan dan tatanan yang dianut oleh suku tersebut.

Menurut Small, 1905 kebudayaan dari aspek psikologi merupakan seluruh alat termasuk yang mekanis, mental dan moral, yang digunakan manusia untuk mencapai tujuannya. Kebudayaan terdiri dari cara-cara manusia untuk mencapai tujuannya, baik secara individu ataupun secara berkelompok.

Menurut Parsudi Suparlan (2002) akar kata dari multikulturalisme adalah kebudayaan, yaitu kebudayaan yang dilihat dari fungsinya sebagai pedoman bagi kehidupan manusia. Dalam konteks pembangunan bangsa, istilah multikultural ini telah membentuk suatu ideologi yang disebut multikulturalisme. Konsep multikulturalisme tidaklah dapat disamakan dengan konsep keanekaragaman secara sukubangsa atau kebudayaan  sukubangsa yang menjadi ciri masyarakat majemuk, karena multikulturalisme menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan. Ulasan mengenai multikulturalisme mau tidak mau akan mengulas berbagai permasalahan yang mendukung ideologi  ini, yaitu politik dan demokrasi, keadilan dan penegakan hukum, kesempatan kerja dan berusaha, HAM, hak budaya komuniti dan golongan minoritas, prinsip-prinsip etika dan moral, dan tingkat serta mutu produktivitas.

“Multikulturalisme” pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi Azra, 2007).

Pada dasarnya, multikulturalisme yang terbentuk di Indonesia merupakan akibat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Menurut kondisi geografis, Indonesia memiliki banyak pulau dimana stiap pulau tersebut dihuni oleh sekelompok manusia yang membentuk suatu masyarakat. Dari masyarakat tersebut terbentuklah sebuah kebudayaan mengenai masyarakat itu sendiri. Tentu saja hal ini berimbas pada keberadaan kebudayaan yang sangat banyak dan beraneka ragam.

Acuan utama bagi terwujudnya masyarakat Indonesia yang multikultural adalah multikulturalisme, yaitu sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan. Dalam model multikulturalisme ini, sebuah masyarakat dilihat sebagai mempunyai sebuah kebudayaan yang berlaku umum dalam masyarakat tersebut yang coraknya seperti sebuah mozaik. Di dalam mozaik tercakup semua kebudayaan dari masyarakat-masyarakat yang lebih kecil yang membentuk terwujudnya masyarakat yang lebih besar, yang mempunyai kebudayaan yang seperti sebuah mozaik tersebut. Model multikulturalisme ini sebenarnya telah digunakan sebagai acuan oleh para pendiri bangsa Indonesia dalam mendesain apa yang dinamakan sebagai kebudayaan bangsa, sebagaimana yang terungkap dalam penjelasan Pasal 32 UUD 1945, yang berbunyi “Kebudayaan bangsa (Indonesia) adalah puncak-puncak kebudayaan di daerah”(Pratama, 2008).

Jadi, Multikultural merupakan suatu paham atau situasi, kondisi masyarakat yang tersusun dari banyak kebudayaan. Multikultural lebih menekankan pada kesetaraan budaya. Multicultural sering merupakan perasaan nyaman yang dibentuk oleh pengetahuan. Pengetahuan yang dibangun oleh keterampilan yang efektif, dengan setiap orang dari sikap kebudayaan yang ditemui dalam setiap situasi yang melibatkan sekelompok orang yang berbeda latar belakang kebudayaannya.

2.    Faktor – Faktor Multikultural

Merupakan suatu kenyataan yang tidak bisa ditolak bahwa negara Indonesia terdiri atas berbagai kelompok etnis, budaya, agama, dan lain-lain. Oleh karena itu, bangsa Indonesia disebut sebagai masyarakat multikultural yang unik dan rumit. Pada dasarnya terdapat banyak faktor yang menyebabkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat multikultural dan multiras. Menurut Ria (2012) Faktor-faktor tersebut antara lain:

a)    Faktor Sejarah Indonesia

Di mata dunia, Indonesia adalah negeri yang kaya dan subur. Segala sesuatu yang diperlukan semua bangsa tumbuh di Indonesia. Misalnya, palawija dan rempahrempah. Oleh karena itu, Indonesia menjadi negeri incaran bagi bangsa lain. Sejak tahun 1605 bangsa Indonesia telah dikunjungi oleh bangsa-bangsa lain yaitu Portugis, Belanda, Inggris, Cina, India, dan Arab. Kesemua bangsa tersebut datang dengan maksud dan tujuan masing-masing. Oleh karena itu, mereka tinggal dan menetap dalam jangka waktu yang lama. Kondisi ini menjadikan Indonesia memiliki struktur ras dan budaya yang makin beragam.

b)   Faktor Geografis

Apabila dilihat secara geografisnya Indonesia berada di jalur persilangan transportasi laut yang ramai dan strategis. Karenanya banyak bangsa-bangsa pedagang singgah ke Indonesia sekadar untuk berdagang. Bangsa-bangsa tersebut seperti Arab, India, Portugis, Spanyol, Inggris, Jepang, Korea, Cina, Belanda, Jerman, dan lain-lain. Kesemua bangsa tersebut mempunyai struktur budaya yang berbeda-beda. Persinggahan ini mengakibatkan masuknya unsure budaya tertentu ke negara Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari masuknya bahasa Inggris, bahasa Belanda, agama Islam, Nasrani, Hindu, dan Buddha.

c)    Faktor Bentuk Fisik Indonesia

Apabila dilihat dari struktur geologinya, bangsa Indonesia terletak di pertemuan tiga lempeng benua besar. Hal ini menjadikan Indonesia berbentuk negara kepulauan yang terdiri atas ribuan pulau. Masing-masing pulau mempunyai karakteristik fisik sendiri-sendiri. Untuk mempertahankan hidup, masyarakat di masing-masing pulau mempunyai cara yang berbeda-beda, sesuai dengan kondisi fisik daerahnya. Oleh karena itu, masing-masing pulau juga mempunyai perkembangan yang berbeda-beda pula. Teknologi, budaya, seni, bahasa mereka pun berbeda-beda yang akhirnya membentuk masyarakat multikultural.

d)   Faktor Perbedaan Struktur Geologi

Sebagaimana telah diungkapkan di atas bahwa pada dasarya Indonsia terletak di antara tiga pertemuan lempeng, yaitu lempeng Asia, Australia, dan Pasifik. Kondisi ini menjadikan Indonesia mempunyai tiga tipe struktur geologi yaitu tipe Asia dengan struktur geologi Indonesia Barat, tipe peralihan dengan zona geologi dengan struktur geologi Indonesia Tengah, dan tipe Australia dengan struktur geologi Indonesia Timur. Perbedaan inilah yang mengakibatkan adanya perbedaan ras, suku, jenis flora dan faunanya.

3.    Ciri-Ciri Masyarakat Multikultural

Menurut Ayu (2012) ciri-ciri masyarakat multikultural, yaitu :

a)    Terjadi segmentasi, yaitu masyarakat yang terbentuk oleh bermacam-macam suku,ras,dll tapi masih memiliki pemisah. Yang biasanya pemisah itu adalah suatu konsep yang di sebut primordial. Contohnya, di Jakarta terdiri dari berbagai suku dan ras, baik itu suku dan ras dari daerah dalam negri maupun luar negri, dalam kenyataannya mereka memiliki segmen berupa ikatan primordial kedaerahaannya.

b)   Memilki struktur dalam lembaga yang non komplementer, maksudnya adalah dalam masyarakat majemuk suatu lembaga akam mengalami kesulitan dalam menjalankan atau mengatur masyarakatnya alias karena kurang lengkapnya persatuan tyang terpisah oleh segmen-segmen tertentu.

c)    Konsesnsus rendah, maksudnya adalah dalam kelembagaan pastinya perlu adany asuatu kebijakan dan keputusan. Keputusan berdasarkan kesepakatan bersama itulah yang dimaksud konsensus, berarti dalam suatu masyarakat majemuk sulit sekali dalam penganbilan keputusan.       

d)   Relatif potensi ada konflik, dalam suatu masyarakat majemuk pastinya terdiri dari berbagai macam suku adat dankebiasaan masing-masing. Dalam teorinya semakin banyak perbedaan dalam suatu masyarakat, kemungkinan akan terjadinya konflik itu sangatlah tinggi dan proses peng-integrasianya juga susah

e)    Integrasi dapat tumbuh dengan paksaan, seperti yang sudah saya jelaskan di atas, bahwa dalam masyarakat multikultural itu susah sekali terjadi pengintegrasian, maka jalan alternatifnya adalah dengan cara paksaan, walaupun dengan cara seperti ini integrasi itu tidak bertahan lama.

f)    Adanya dominasi politik terhadap kelompok lain, karena dalam masyarakat multikultural terdapat segmen-segmen yang berakibat pada ingroup fiiling tinggi maka bila suaru ras atau suku memiliki suatu kekuasaan atas masyarakat itu maka dia akan mengedapankan kepentingan suku atau rasnya.

 4.      Jenis-jenis Masalah Multikultural di Sekolah Indonesia

Menurut Naim dan Sauqi tahun 2008, jenis-jenis masalah multicultural di sekolah adalah :

  1. Keragaman Identitas Budaya Daerah, keragaman ini menjadi modal sekaligus potensi konflik. Keragaman budaya daerah memang memperkaya khasanah budaya dan menjadi modal yang berharga untuk membangun Indonesia yang multikultural. Namun kondisi neka budaya itu sangat berpotensi memecah belah dan menjadi lahan subur bagi konflik dan kecemburuan sosial. Masalah itu muncul jika tidak ada komunikasi antar budaya daerah. Tidak adanya komunikasi dan pemahaman pada berbagai kelompok budaya lain ini justru dapat menjadi konflik. Sebab dari konflik-konflik yang terjadi selama ini di Indonesia dilatar belakangi oleh adanya keragaman identitas etnis, agama dan ras.
  2. Pergeseran Kekuasaan dari Pusat ke Daerah, sejak dilanda arus reformasi dan demokratisasi, Indonesia dihadapkan pada beragam tantangan baru yang sangat kompleks. Satu di antaranya yang paling menonjol adalah persoalan budaya. Dalam arena budaya, terjadinya pergeseran kekuasaan dari pusat ke daerah membawa dampak besar terhadap pengakuan budaya lokal dan keragamannya. Kebudayaan, sebagai sebuah kekayaan bangsa, tidak dapat lagi diatur oleh kebijakan pusat, melainkan dikembangkan dalam konteks budaya lokal masing-masing. Ketika sesuatu bersentuhan dengan kekuasaan maka berbagai hal dapat dimanfaatkan untuk merebut kekuasaan ataupun melanggengkan kekuasaan itu, termasuk di dalamnya isu kedaerahan.
  3. Kurang Kokohnya Nasionalisme, keragaman budaya ini membutuhkan adanya kekuatan yang menyatukan (“integrating force”) seluruh pluralitas negeri ini. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, kepribadian nasional dan ideologi negara merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi dan berfungsi sebagai  integrating force.  Saat ini Pancasila kurang mendapat perhatian dan kedudukan yang semestinya sejak isu kedaerahan semakin semarak. Sejarah telah menunjukkan peranan Pancasila yang kokoh untuk menyatukan kedaerahan ini. Kita sangat membutuhkan  semangat nasionalisme yang kokoh untuk meredam dan menghilangkan isu yang dapat memecah persatuan dan kesatuan bangsa ini.
  4. Fanatisme Sempit, fanatisme dalam arti luas memang diperlukan. Namun yang salah adalah fanatisme sempit, yang menganggap menganggap bahwa kelompoknyalah yang paling benar, paling baik dan kelompok lain harus dimusuhi. Gejala  fanatisme sempit yang banyak menimbulkan korban ini banyak terjadi di tanah air ini.
  5. Konflik Kesatuan Nasional dan Multikultural, ada tarik menarik antara kepentingan  kesatuan nasional dengan gerakan multikultural. Di satu sisi ingin mempertahankan kesatuan bangsa dengan berorientasi pada stabilitas nasional. Namun dalam penerapannya, kita pernah mengalami konsep stabilitas nasional ini dimanipulasi untuk mencapai kepentingan-kepentingan politik tertentu. Di sisi multikultural, kita melihat adanya upaya yang ingin memisahkan diri dari kekuasaan pusat dengan dasar pembenaran budaya yang berbeda dengan pemerintah pusat yang ada di Jawa ini.
  6. Kesejahteraan Ekonomi yang Tidak Merata di antara Kelompok Budaya, kejadian yang nampak bernuansa SARA seperti Sampit beberapa waktu yang lalu setelah diselidiki ternyata berangkat dari kecemburuan sosial yang melihat warga pendatang memiliki kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik dari warga asli. Jadi beberapa peristiwa di tanah air yang bernuansa konflik budaya ternyata dipicu oleh persoalan kesejahteraan ekonomi.  Keterlibatan orang dalam demonstrasi yang  marak terjadi di tanah air ini, apapun kejadian dan tema demonstrasi, seringkali terjadi karena orang mengalami tekanan hebat di bidang ekonomi.
  7. Keberpihakan yang salah dari Media Massa, khususnya televisi swasta dalam memberitakan peristiwa, Di antara media massa tentu ada ideologi yang sangat dijunjung tinggi dan dihormati. Persoalan kebebasan pers, otonomi, hak publik untuk mengetahui hendaknya diimbangi dengan tanggung jawab terhadap dampak pemberitaan. Mereka juga perlu mewaspadai  adanya pihak-pihak tertentu yang pandai memanfaatkan media itu untuk kepentingan tertentu,yang justru dapat merusak budaya Indonesia.
  8. Kesenjangan multidimensional, Berikut ini beberapa kesenjangan multidimensional yang terjadi dalam masyarakat multidimensional:

1)      Kesenjangan aspek aspek kemasyarakatan

2)      Kesenjangan sesiografis

3)      Kesenjangan yang berkaitan dengan aspek metetial.

4)      Kesenjangan antara mayoritas dan minoritas

  1. Konflik antar etnis dan antar pemeluk agama yang berbeda, Konflik antar suku bangsa sebenarnya adalah produk dari hubungan antar suku bangsa yang berlaku setempat,oleh karna itu factor penyebabnyaada dalam konteks-konteks setempat.

 5.    Peranan Konselor dalam Menghadapi Masyarakat Multikultural

Kesadaran budaya merupakan salah satu dimensi yang penting dalam memahami masyarakat dengan keragaman budaya. Hal ini akan membantu dalam memberikan makna akan pemahaman mengenai perbedaan yang muncul. Konselor sebagai pendidik psikologis memiliki peran strategis dalam menghadapi keragaman dan perbedaan budaya. Oleh karena itu, konselor perlu memiliki kompetensi dan menguasai ragam bentuk intervensi psikologis baik secara pribadi maupun lintas budaya.

Pemahaman mengenai prilaku dan proses interaksi dalam kehidupan bermasyarakat menjadi factor penting dalam mewujudkan kesadaran budaya dalam pendidikan formal maupun informal. Factor utama yang harus dimiliki konselor adalah kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi dengan kemajemukan dan keberagaman budaya; konselor harus peka terhadap kemajemukan budaya yang dimiliki individu; memiliki pemahaman mengenai rasial dan warisa budaya; dan bagaimana hal tersebut secara personal dan professional yang mempengaruhi pengertian dan hal yang bisa terjadi dalam proses konseling; serta memiliki pengetahuan mengenai pengaruh social terhadap orang lain.

Konselor sebaiknya dapat meingkatkan penghargaan diri terhadap perbedaan budaya, sehingga menyadari streotipe yang ada dalam dirinya dan memiliki persepsi yang jelas mengenai pandangannya terhadap kelompok-kelompok monoritas sehingga dapat meningkatkan kemampuan untuk menghargai secara efektif dan pemahaman yang sesuai dengan perbedaan budaya (Brown&Williams, 2003).

Konselor perlu memperkuat kesadaran mengenai budaya yang beragam dalam kehidupan manusia. Pentingnya memahami perbrdaan nilai-nilai, persepsi, emosi dan factor-faktor yang menjadi wujud kemajemukan yang ada. Kompetensi, kualitas dan guidelines mengenai kesadaran budayanya sendiri yang dapat diwujudkan dengan memiliki kesadaran dan kepekaan pada warisan budayanya sendiri, memiliki pengetahuan mengenai ras-nya dan bagaimana hal ini secara personal dan professional yang mempengaruhi proses konseling, serta memiliki pengetahuan mengenai kehidupan social yang dapat mempengaruhi oranglain.

 B.     DESKRISPSI PENYESUAIAN DIRI

Hasil penelitian yang di lalkukan oleh Ina Noviyanti pada tahun 2010,  Dari hasil penelitian sebanyak 162 siswa SMA Negeri 10 Bandung memiliki penyesuaian diri yang sedang dengan presentase 53,09% lalu penyesuaian diri yang tingginya sebanyak 19,14% dan penyesuaian diri yang rendahnya dengan presentase 27,78%. Dari data tersebut menunjukan secara umum bahwa penyesuaian diri siswa berada pada kategori sedang.

1.      Pengertian Penyesuaian Diri

Pengertian penyesuaian diri berasal dari suatu pengertian yang didasarkan pada ilmu biologi yang diutarakan oleh Charles Darwin yang terkenal dengan teori evolusinya. Menurut Darwin (Zainun Mu’tadin, 2002) “Genetic changes an improve the ability of organism to survive, reproduce, and an animals, raise offspring, this process is called adaption.” Biasanya pengertian tersebut menunjukkan bahwa makhluk hidup berusaha untuk menyesuaikan dirinya dengan alam tempat ia hidup berusaha untuk menyesuaikan dirinya dengan alam tempat ia hidup untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Sesuai dengan pengertian tersebut, maka tingkah laku manusia dapat dipandang sebagai reaksi terhadap berbagai tuntutan oleh tekanan lingkungan tempat ia hidup seperti cuaca, dan berbagai unsure alami lainnya. Semua makhluk hidup secara alami dibekali kemampuan untuk menolong dirinya sendiri dengan cara menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan agar dapat bertahan hidup. Kemudian dalam istilah psikologi, penyesuaian (adaptation dalam istilah Biologi) disebut dengan istilah adjustment.

Pengertian penyesuaian diri menurut Mohammad Ali dan Mohammad Asrori adalah dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjustment atau personal adjustment. Pengertian penyesuaian diri menurut Sofyan. S. Willis adalah Kemampuan siswa untuk hidup dan bergaul secara wajar dalam lingkungan sekolah, sehingga ia merasa puas terhadap dirinya dan terhadap lingkungannya tersebut. Menurut Mustofa Fahmi adalah proses dinamika yang bertujuan untuk menggubah kelakuan seseorang agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara dirinya dan lingkungannya.  Menurut Kartini Kartono penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya, sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati prasangka, depresi, kemarahan dan lain-lain. Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri merupakan proses kemampuan diri untuk dapat mempertahankan eksistensialnya untuk dapat hidup dengan survive dan memperoleh kesejahteraan jasamani dan rohani juga dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan-tuntutan sosial di lingkungannya.           

 2.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri

Pada dasarnya penyesuaian diri melibatkan individu dengan lingkungannya. Zainun Mu’tadin (2002, dalam Noviyanti 2010:28) menyebutkan beberapa lingkungan yang dapat menciptakan penyesuaian diri yang sehat bagi remaja antara lain yaitu lingkungan keluarga, lingkungan teman sebaya, dan lingkungan sekolah. Ketiga lingkungan ini berperan dalam proses pembentukan penyesuaian diri. Individu belajar dari setiap proses interaksi yang sekurang-kurangnya dilakukan di lingkungan keluarga, teman sebaya dan sekolah.

            Menurut Moh. Surya (1985:16, dalam Noviyanti 2010:29) menyebutkan bahwa “penentu-penentu penyesuaian diri identik dengan faktor yang menentukan perkembangan kepribadian”. Adapun faktor-faktor yang dimaksudkan adalah “ (1) kondisi jasmaniah yang meliputi pembawaan, susuanan jasmaniah, system syaraf, kelenjar otot, kesehatan, dan lain-lain, (2) perkembangan dan kematangan yang meliputi kematangan intelektual, social, moral dan emosional, (3) penentu psikologis yang meliputi pengalaman belajar, pembiasaan, frustasi dan konflik, (4) kondisi lingkungan meliputi rumah, sekolah, dan masyarakat, (5) penentu budaya cultural berupa budaya dan agama.

 D.  PREDIKSI PENANGANAN (TREATMENT)

1.      Kuratif

Menurut Widhiarso dalam menangani siswa yang kurang penyesuaian dirinya dengan lingkungannya karena perbedaan budaya,agar tidak seperti kasus yang di atas maka dapat di lakukan upaya sebagai berikut :

a.       Saling Percaya

Rasa percaya adalah landasan dalam membentuk hubungan yang terjadi jika kedua pihak saling percaya terhadap satu sama lainnya. Lawan dari rasa percaya adalah rasa curiga yang merupakan isyarat adanya disintegrasi. Rasa percaya adalah penerimaan terhadap segala aspek kepribadian orang lain beserta keunikannya. Rasa percaya juga memuat pandangan mengenai kekuatan orang lain dalam mengembangkan potensi diri mereka masing-masing. Rasa percaya dilandasai oleh pikiran positif dapat memunculkan prasangka baik terhadap orang lain.

b.       Kerja Sama

Kerja sama tidak dapat lepas dari masalah budaya damai dan anti kekerasan. Kerja sama dapat meredam kecenderungan individu untuk bersikap individualis dan egois dengan mementingkan diri mereka sendiri. Kerja sama diperlukan untuk mengatasai persoalan yang muncul dalam tubuh sekolah. Kerja sama hanya mungkin terjadi jika setiap komponen sekolah bersedia untuk mengorbankan sebagian dari apa yang diperoleh dari kerja sama tersebut.

 c.       Tenggang Rasa

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tenggang rasa diartikan dengan menghormati perasaan orang lain. Pada istilah tradisional tenggang rasa kerap juga disebut dengan tepa selira, sedangkan pada istilah yang lebih kontemporer tenggang rasa disejajarkan dengan empati. Empati berarti menerima perspektif (frame of reference internal) seseorang dengan ketepatan (accuracy) dan komponen emosional yang menyingung kepada sisi kemanusiaannya.

d.      Penerimaan terhadap Perbedaan

Salah satu pilar dalam menciptakan kedamaian di sekolah adalah penerimaan terhadap perbedaan. Penerimaan terhadap perbedaan adalah menerima bahwa orang lain juga memiliki baik pendapat, cita-cita, harapan dan keinginan yang mungkin berbeda. Penerimanaan terhadap perbedaan juga mencakup penerimaan bahwa orang lain memiliki latar belakang agama, suku bangsa, ras yang berbeda sehingga tidak ada alasan untuk bertindak secara diskriminatif.

e.       Penghargaan Terhadap Kelestarian Lingkungan

Kedamaian di sekolah dapat tercipta ketika kelestarian dan keasrian lingkungan sekolah dapat terjaga dengan baik. Kelestarian lingkungan dapat tercipta ketika komponen sekolah memiliki sikap yang berwawasan ekologis.

Sikap berwawasan ekologi adalah sikap yang memuat kesadaran terhadap prinsip-prinsip kelestarian alam yang termanifestasikan dalam keyakinan, motivasi, perasaan, serta kebiasaan komponen sekolah ketika berinteraksi dengan lingkungan hidup di sekolah. kelestarian di sekolah harus diperhatikan dalam mewujudkan kedamaian di sekolah.

Berdasarkan pendapat para ahli, maka kelompok kami memprediksi dalam memberikan penanganan pada kasus BR mengenai kesulitan penyesuaian diri, sebagai berikut:

1.)    Ajak siswa tersebut mengikuti kegiatan-kegiatan kelompok belajar atau sharing baik di jam mata pelajaran atau di luar jam mata pelajaran dengan meminta kerjasama dengan guru bidang studi.

Rasionalisasi:

Bimbingan Kelompok merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada individu melalui suasana kelompok yang memungkinkan setiap anggota untuk belajar berpartisipasi aktif dalam berbagi pengalaman dalam upaya membangun wawasan, sikap, atau keterampilan yang diperlukan dalam upaya pencegahan timbulnya masalah atau upaya pengembangan pribadi. Tujuan dari bimbingan kelompok ini untuk menangani kesulitan dalam penyesuaian diri adalah (1) untuk membantu memberikan orientasi kepada kelompok dalam memasuki atau menghadapi situasi baru lingkungan baru atau pengalaman baru, (2) menyediakan pengalaman belajar atau learning experience yang agak berlainan dengan pengalaman belajar yang diberikan dalam kegiatan kurikulum, (3) memberikan penyesuaian (adjustment) dan Therapy. Diketahui dengan bimbingan kelompok yang dijelaskan di atas BR dapat berbaur dengan siswa-siswa lain, dapat lebih berinteraksi dan belajar untuk lebih terbuka terhadap perbedaan-perbedaan, baik perbedaan pendapat ataupun perbedaan budaya.

2.)    Motivasi siswa untuk mengikuti ekstrakulikuler-ekstrakuliker.

Rasionalisasi:

Dengan mengikuti kegiatan ekstrakulikuler siswa dapat mengembangkan dirinya dengan kebutuhan, potensi, bakat dan minat mereka melalui kegiatan secara khsus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan disekolah. Kegiatan ekstrakulikuler ini memiliki manfaat sebagai wadah penyalur hobi, minat, dan bakat para siswa secara positif yang dapat mengasah kemampuan, daya kreatifitas, jiwa sportifitas, sosialisasi diri dengan lingkungannya, penyesuaian diri yang sehat dan meningkatkan rasa percaya dirinya.

 3.)    Mengajak siswa untuk berpikir realistis.

Rasionalisasi:

Ketidakmampuan menyesuaikan diri terlihat dari ketidakpuasan terhadap diri sendiri dan mempunyai sikap-sikap menolak diri. Remaja yang mengalami perasaan ini merasa dirinya memainkan peran orang yang dikucilkan. Akibatnya, siswa tidak mengalami kebahagiaan dalam berinteraksi dengan teman-teman sebaya atau keluarganya. Remaja yang penyesuaian dirinya buruk, cenderung paling tidak bahagia. Ketidakbahagiaan remaja kadang-kadang lebih, karena masalah-masalah pribadi dari pada masalah-masalah lingkungan. Seperti memiliki cita-cita yang terlalu tinggi dan tidak realistis bagi dirinya sendiri, dan bila prestasinya tidak memenuhi harapan, dan bersikap menolak diri sendiri atau memiliki perasaan rendah diri, tidak mau menerima kondisi fisk, tidak memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri, maka inipun dapat mengakibatkan remaja menolak diri, jika remaja realistis tentang derajat penerimaan yang dapat mereka capai, dan merasa puas kepada orang-orang yang menerima mereka dan menunjukkan kasih sayang pada orang-orang tersebu, kemungkinan untuk merasa bahagia akan emningkat. Artinya pula bahwa remaja memiliki penyesuaian diri yang sehat.

 2.      Preventif

1.  Rasionalisasi

Dalam konteks multikultural yang begitu banyaknya budaya, adat istiadat dengan kondisi siswa yang begitu unik dan sudah dipastikan berbeda. Dengan menghargai, merasakan dan memahami kebudayaannya masing-masing siswa selain itu juga siswa perlu mengetahui beragam kebudayaan yang ada di Indonesia. Bertujuan untuk lebih mengenal, menyadari dan menerima perbedaan yang ada dalam setiap individu lainnya.

 2. Strategi yang Digunakan

Upaya preventif untuk mencegah adanya rasa kurang menghargai terhadap perbedaan kebudayaan dapat dilakukan dengan teknik menulis untuk memberikan pemahaman dan mengetahui seberapa faham siswa dalam mengenal kebudayaan-kebudayaan yang berada di Indonesia. Tujuan dari upaya preventif ini adalah agar siswa mampu menghindari rasa kurang menghargai kebudayaan masin-masing siswa dan dampak yang muncul dari penolakan multikultural. Langkah yang dilakukan adalah peserta didik menuliskan kebudayaan-kebudayaan yang ada di indonesia kemudian setelah menuliskan siswa di minta untuk mendiskusikannya kepada peserta didik yang lain, sehingga terciptanya saling menghargai dalam pemberian masukan, pengungkapan pendapat dan perbedaan pendapat.

 DAFTAR PUSTAKA

 Ayu, Prista. 2012. Masyarakat Multikultural. [Online]. Terdapat di : 

            http://pristality.wordpress.com/2012/01/14/masyarakat-multikultural/           (diunduh pada tanggal 28 Maret 2012)

 Hasibuan, Sofia Rangkuti. 2002. Manusia Dan Kebudayaan Di Indonesia, Teori Dan Konsep (Edisi Revisi). Jakarta: Dian Rakyat.

Kementrian Pendidikan Nasional. 2011. Multikultural (Kajian holistik tentang multikultural dari berbagai dimensi). [Online]. Terdapat di : http://www.p4tkpenjasbk.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1198:multikultural-kajian-holistik-tentang-multicultural-dari-berbagai-dimensi&catid=25:artikel&Itemid=454 (diunduh pada tanggal 16 April 2012)

Matsumoto, David. 2008. Pengantar Psikologi Lintas Budaya (Buku teks utama dalam kelas psikologi Lintas Budaya tingkat awal). Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Mukhlison. (2008). Pendidikan Pluralis. [Online]. Tersedia di :  http://mukhlison2008.blogspot.com/2008/08/pendidikan-pluralis.htm (diunduh 26 Maret 2012)

Naim, Ngainum dan Achmad Sauki. 2008. Pendidikan Multikultural, Konsep, dan Aplikasi. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.

Prayitno. (1988). Orientasi Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Dept. Pendidikan dan Kebudayaan

Ria. 2012. Faktor Penyebab Multikultural di Indonesia. [Online]. Terdapat di : http://texbuk.blogspot.com/2012/02/faktor-penyebab-multikultural-di.html#ixzz1rJoL3PRShttp://my.opera.com/Putra%20Pratama/blog/show.dml/2743875 (diunduh pada tanggal 30 Maret 2012)

 Santrock, Jhon W. 2007. Remaja, edisi kesebelas. Jakarta: Erlangga.

 Santoso, Slamet. 2010. Teori-Teori Psikologi Sosial. Bandung: PT Refika Aditama.

 Sciarra, Daniel T. 2004. School Counseling Foundation and Contemporary Issues. USA : Tomson Brooks/cole

Supriatna, Mamat. 2011. Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi Orientasi Dasar Pengembangan Profesi Konselor. Bandung : Rajawali Pers

Suwarjo dan Eliasa, Eva Imania. 2011. 55 Permainan (games) dalam Bimbingan dan Konseling. Bandung : Paramita Publishing

Taufiq. (2009). Multikulturalisme [Online]. Tersedia di : http://radentaufiq.wordpress.com/category/uncategorized/page/3/ (diunduh 26 Maret 2012)

Widiarso, Wahyu dan Hadjam, M N R. 2003. Budaya Damai Anti Kekerasan. Dirjen Pendidikan Menengah Umum.  

Wira. 2006. Urgensi Pendidikan berbasis Multikultural. [Online]. Terdapat di : http://blog.loksado.com/urgensi-pendidikan-berbasis-multikultural (diunduh pada tanggal 16 April 2012)

 


Trip at Yogyakarta Part 3 *Finally

Posted in Catatan Hati

Minggu, 3 November 2012….

Yupss… finally, hari terakhir di jogja.. aah kota dambaanku, kota kesayanganku dan kota impianku (lebay juga gapapa deh). Sedih dan rasanya ga mau pergi dari sini, suka banget sama orang-orang jogja ramah-ramah, tempatnya juga suka banget yang kurang suka nya itu udaranya itulohhh ngaheaaab (panas)…

Dihari terakhir bener-bener ga ada ide mau kemana-mananya hahaha… uang udah batas limit, waktu tempo dipenginapan juga sampe jam 12 siang, sedangkan kereta yang bakalan bawa kita kembali ke bandung kota kenangan juga adanya nanti jam 8 malem. kebayang khan mau ngapain dan dimana kita diem :’(

Akhirnya saya, umi, siti dan ovi memutuskan untuk mencari tempat agar bisa kami tongkrongin buat ngerjain tugasnya doktor muda dari minang. sedangkan widia dan hikmah akan pergi ke candi prambanan dan borobudur. Setelah sekian lama mencari tempat untuk sekedar berteduh, akhirnya sampailah kami di sebuah mesjid di sekitar jalanan marioboro. disana kami benar-benar ngerjain tugas dan sibuk dengan leptopnya maisng-masing. Ga jarang juga selang waktu ngerjain kita bercanda, foto-foto atau enggak jalan-jalan cari oleh-oleh khas jogja.

Saya dan umi yang ditugaskan untuk membeli oleh-oleh khas jogja. dengan semangat juang kami berdua mencari mamang becak yang kuat, kekar dan baik. soalnya kasian banget aja mamang becak yang udah ga berdaya suruh bawa aku sama umi yang ukuran badan kami cukup besar.. hahaha.. naik becak di jogja adalah pengalaman kedua kami berdua setelah pulang dari alun-alun kidul. ternyata jogja itu jauh lebih indah di kelilingi ketika malam hari tenang dan damai rasanya. Selain bakpia yang kami beli, ada tas jogja, kaos jogja, alat tulis yang berlabel jogja, dan lain-lain.

Memeluk tas jogja dan berkas tugas.. antara bahagia dan mengkhawatirkan

umi, ovi dan siti leyeh-leyeh dari tugas nih

Oleh-oleh yang bermanfaat nih, kepakenya lama… hehehe

Setelah membeli oleh-oleh dan dirasa cukup lama berdiam diri di mesjid, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Memang baik sekali bapak-bapak pemilik penginapan hotel indonesia indah, beliau memperbolehkan kita buat ikut ngecas, ikut mandi sama ikut titipin barang-barang. akhirnya adzan magrib berkumandang, kami bersiap untuk menuju ke stasiun lempuyangan. Untung aja ada juned jadi kita ga terlalu kelimpungan buat ngapa-ngapain. setibanya d stasiun ada rasa sedih mau meninggalkan kota ini, dan saya berjanji taun depan saya akan kembali lagi ke kota ini. Akhirnya kita masuk ke dalam stasiun setelah mengucapkan terimakasih dan meminta maaf kepada juned karena sudah banyak sekali merepotkan dan menyusahkan.. makasih juneed hohoho

And Than, keretaaanya datang. tanpa berlama-lama dan berleha-leha kami langsung masuk ke dalam stasiun. Setelah kami mendapatkan tempat duduk masing-masing, kami sibuk dengan kesibukan masing-masing. saya yang sibuk dengan pemikiran dan harapan-harapan saya dan kebahagiaan setelah menginjakan kaki di jogja dan terpesona dengan keelokan kota ini. Jogja adalah kota kenangan dan kota keindahan untuk saya :) )

Trip at Yogyakarta Part 2

Posted in Catatan Hati

Sabtu, 2 November 2012… Hari kedua di Jogjaa…. :D

Hawa jogja emang ajib buat sauna ya sodarah, panasnya ga tertahankan. tapi gimanapun panas nya tingkat dewa, saya masih saja mencintai kota romantis nan otentik ini. Jadwal longtrip hari ini itu ke gua pindul, menyusuri pantai gunung kidul dan ngubek-ngubek jogjaaa… Love it…

Bangun tidur, langsung mandi sama packing buat menuju gua pindul.. yihaaa.. setelah itu sambil nunggu mobil jemputan kita-kita kongkow nasi kucing di sekitar penginapan, alhasil saya melahap 2 bungkus nasi kucing. di perjalanan ini, kita kedatangan personil dadakan nih tentunya juned pacarnya ovi dan temen nya juned yang bakalan bawa kita berpetualang di hari kedua, he is Aan. Btw, Aan ini ngingetin saya sama seseorang.. OMG, sebenernya mukanya ga mirip sama “seseorang” itu. tapi perawakan nya dan gayanya ketika dilihat dari belakang dan sedang mengemudikan mobil avanza hitam ini mirip banget sama “seseorang” itu tapi alhamdulillahnya ga bikin saya galau.. yeyelala..

Akhirnya kami semua berangkat menuju gua pindul, syukurnya kita punya guide (juned dan aan) gratis jadi sepanjang jalan mereka berdua memperkenalkan tempat-tempat di jogja yang emang harus diperkenalkan oleh mereka. Disepanjang jalan saya ga henti-hentinya menganga melihat keindahan kota romanis ini, bukan karna pernah ada kenangan tapi karena memang jogja ini kota yang sangat indah, ramah dan mengagumkan. sampai-sampai saya benar-benar ingin tinggal dan memiliki rumah di jogja, entah saya yang kuliah s2 disini atau saya menikah dengan orang asli jogja.. hehe

Yeeeh, akhirnyaaa kita sampai di gua pindul ini. masuknya cuman 30.ooo per orang udah termasuk guide dan peralatan-peralatan buat menyusuri gua pindul ini. bagi yang belom tau gua pindul itu tempat apa, gua pindul itu gua yang dinding-dindingnya itu berwarna putih, letaknya di desa bejiharjo-gunung kidul (kalau ga salah) nah, gua ini itu berada di bawah tanah. untuk melewati gua ini bukan dengan jalan kaki tapi kita menggunakan ban karet soalnya jalanannya bukan aspal tapi sungai. di ujungnya kita bisa berenang sepuasnya. pokoknya amazing syekaliiiiii….

Siti, widia, hikmah, saya, umi dan ovi sedang berpose di gerbang gua pindul dengan peralatan lengkap buat menjelajah


Juned, siti, hikmah, saya, ovi, umi, widia dan aan sebelum masuk ke gua pindul

Taaaaaraaaaa…. Dalemnya gua pindul nih

Inilah keramaian pantai Indrayanti-gunung kidul.. Ramenya udah kayak pasar. Dipinggir-pinggirnya banyak restoran

Dan inilah pantai kedua yang dikunjungi, pantai krakal

Narsis di tepi pantai krakal… yuhuuuu

The next, inilaah pantai sadranan. paling keren kalau buat rafting

Pantai sadranan emang TOP

Pemandangan menuju pantai pok tunggal

Pantai pok tunggal di kala senja

Pantai Pok Tunggal lalalalala indahnya

Bukit Bintang versi Jogjaaaa…..

Hari kedua sangat melelahkan sekaligus menyenangkan :) )

Malamnya kami pergi mencari makan di sepanjang jalan marioboro, makan gudeg jogja enak walaupun mahal.. hehe.. udah gitu jalan-jalan beli kopi joss dan kuliner makanan jogja…

sesampainya di penginapan saya, umi, siti dan ovi langsung membuka leptop dan tugas-tugas kuliah yang harus dikumpulkan lusaaaa…. Liburan yang menyenangkan dan mengkhawatirkan ketika harus membawa tugas di tengah-tengah kegembiraan liburan…

-to be continued-

UPAYA BIMBINGAN DAN KONSELING MENGGUNAKAN TEKNIK RESTRUKTURISASI KOGNITIF UNTUK MEREDUKSI BODY DYSMORPHIC DISORDER (BDD) PADA SISWA

Posted in Edukasi

Makalah  Diajukan untuk memenuhi tugas matakuliah Seminar BK (PB 318) yang diampu oleh dosen Prof. Dr. Syamsu Yusuf L.N., M. Pd., Dr. M. Solehuddin, M. Pd., MA., dan  Dr. Ipah Saripah, M. Pd.

BAB I

PENDAHULUAN 

A.    Latar Belakang

Santrock (2003: 31) mengartikan bahwa masa remaja sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional. Ditilik dari segi usia, siswa SMP dan SMA termasuk fase atau masa remaja. Fase remaja merupakan salah satu periode dalam rentang kehidupan siswa.

Semua perubahan yang terjadi di dalam diri pada masa remaja menuntut individu untuk melakukan penyesuaian diri dalam diri dalam membentuk suatu “Sense of self” yang baru tentang siapa dirinya. Karena perubahan-perubahan yang terjadi mempengaruhi remaja pada hampir semua area, konsep diri juga  berada dalam keadaan terus berubah pada periode ini. Ketidakpastian masa depan membuat formulasi dari tujuan yang jelas merupakan tugas yang sulit. Namun, dari penyelesaian masalah dan konflik remaja inilah lahir konsep diri remaja.

William H. Fitts, 1971 (dalam Agustiani, 2009 : 138) mengatakan bahwa konsep diri berpengaruh kuat terhadap tingkah laku seseorang. Dengan demikian mengetahui konsep diri seseorang, kita akan lebih mudah meramalkan dan memahami tingkah laku orang tersebut. Pada umumnya tingkah laku individu berkaitan dengan gagasan-gagasan tentang dirinya sendiri. Jika seseorang mempersepsikan dirinya sebagai orang yang inferior dibandingkan dengan orang lain, walaupun hal ini belum tentu benar, biasanya tingkah laku yang ia tampilkan akan berhubungan dengan kekurangan yang dipersepsinya secara subjektif tersebut.

Berbeda dari anak-anak, remaja berusaha untuk memahami siapakah dirinya, bagaimanakah sifat-sifatnya, apa yang hendak diraih dalam hidupnya. Remaja dituntut untuk dapat mengeskplorasi diri dan identitas dirinya, yang sering kali merupakan aspek sentral dari perkembangan kepribadian di masa remaja. Harapan masyarakat Indonesia kepada remaja saat ini tidak sesuai dengan kenyataan pada diri remaja hal itu disebabkan akibat konsep diri negatif remaja yang terbentuk.

Konsep diri negatif berdampak pada perkembangan kepribadian remaja karena pola kepribadian dibentuk oleh konsep diri yang dimiliki individu. Remaja yang memandang dirinya sebagai individu yang memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan dan tidak memiliki penyesalan atas kondisi diri akan percaya diri dan menunjukkan sikap terbuka terhadap orang lain. Remaja yang memandang dirinya bodoh, tidak berpenampilan menarik, merasa memiliki banyak sekali kekurangan dan merasa diri paling tidak beruntung akan menimbulkan penyesalan terhadap diri dan menjadi tidak percaya diri. Pandangan diri yang negatif dapat mengakibatkan pribadi individu menjadi tertutup sehingga perkembangan kepribadian menjadi tidak sehat.

Salah satu masalah yang ditimbulkan dari konsep diri negatif yaitu sebagai pencitraan buruk atau Body Dysmorphic Disorder (BDD) dimana remaja yang memandang dirinya bodoh, tidak berpenampilan menarik, merasa memiliki banyak sekali kekurangan dan merasa diri paling tidak beruntung yang menimbulkan penyesalan terhadap diri dan menjadi tidak percaya diri. Body Dysmorphic Disorder (BDD) diindikasikan dengan gejala ketidakpuasan tingkat tinggi terhadap tubuh, pemikiran negatif atau hubungan kognisi terhadap bagian-bagian tubuh tertentu atau bahkan tingkatan yang tinggi dari penghindaran situasi sosial yang disebabkan perasaan-perasaan negatif mengenai tubuh (Thompson,2002).

Seorang remaja dengan gangguan dismorfik tubuh (Body Dismorphic Disorder) terpaku pada kerusakan fisik yang dibayangkan atau dibesar-besarkan dalam hal penampilan mereka (APA, 2000). Mereka dapat mengahabiskan waktu berjam-jam untuk memeriksakan diri didepan cermin dan mengambil tindakan yang ekstrem untuk mencoba memperbaiki kerusakan yang dipersepsikan, bahkan menjalani operasi plastik yang tidak dibutuhkan. Lainnya dapat membuang setiap cermin dari rumah mereka agar tidak diingatkan akan cacat yang mencolok dari penampilan mereka. Remaja dengan gangguan ini dapat percaya bahwa orang lain memandang diri mereka jelek atau berubah bentuk menjadi rusak dan bahwa penampilan fisik mereka yang tidak menarik mendorong orang lain untuk berpikir negatif tentang karakter atau harga diri mereka sebagai seorang manusia ( Rosen, 1996).

Philips & Menard (Wikipedia, 2006) menemukan pasien bunuh diri karena BDD menjadi 45 kali lebih tinggi dari populasi umum di USA. Nilai ini akan meningkat dua kali lipat pada gejala depressi  dan tiga kali lipat pada gejala bipolar disorder. Weinhenker (2001) menunjukkan sebesar 30% penderita BDD mmeilih berdiam diri di rumah untuk menghindari situasi dan hubungan sosial.

Philips (Rini, 2004) mengungkapkan bahwa kecenderungan BDD itu pada umumnya mulai tampak ketika seorang individu dalam masa remaja atau awal masa dewasa (bisa jadi berawal sejak masa kecil, namun tidak pernah terdeteksi). Secara umum, rentang usia remaja itu berkisar antara 15-19 tahun dan pada masa itu disebut dengan manusia tanggung (Supardi, 2003:1).

Aliffia Ananta, 2010 (Anna, 2005) Perilaku-perilaku siswa yang kurang wajar tersebut dapat ditangani melalui kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah. Pendekatan dalam bimbingan konseling yang memfokuskan pada belajar adalah pendekatan behavioral. Salah satu pendekatan dalam bimbingan dan konseling yang dapat digunakan untuk mereduksi kecenderungan body dysmorphic disorder adalah pendekatan cognitive-behavioral therapy (CBT).

Konseling cognitive-behavioral therapy merupakan  sebuah pendekatan yang mengkombinasikan konseling kognitif dan konseling behavioral. Pada pelaksanaannya konseling cognitive-behavioral therapy merupakan bentuk konseling yang menekankan kepada pentingnya penggunaan pikiran dalam perasaan dan tindakan individu. Konseling cognitive-behavioral therapy membantu individu belajar merubah perilaku, menenangkan pikiran dan tubuh sehingga merasa lebih baik, berfikir lebih jelas dan membantu belajar membuat keputusan yang tepat (Bush, 2003:1).

Individu dengan BDD sering menunjukkan pola berdandan atau mencuci, menata rambut secara kompulsif, dalam rangka mengoreksi kerusakan yang dipersepsikan. Penanganan gangguan ini dengan teknik kognitif behavioral, paling sering pemaparan terhadap pencengahan respons dan restrukturisasi kognitif, juga mencapai hasil yang memberikan harapan (Cororve & Gleaves, 2001).

Untuk mengatasi konsep diri negatif menjadi konsep diri positif yang dapat dikembangkan secara optimal salah satunya dengan menggunakan teknik restrukturisasi kognitif. Restrukturisasi kognitif memusatkan perhatian pada upaya mengidentifikasi dan mengubah kesalahan kognisi atau persepsi konseli tentang diri dan lingkungannya. Kesalahan kognisi tersebut diekspresikan oleh konseli melalui pernyataan diri yang negatif. Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan, fokus masalahnya adalah konsep diri siswa yang mengalami BDD. Teknik restrukturisasi kognitif digunakan sebagai upaya mengembangkan konsep diri siswa. Oleh karena itu makalah ini akan menjelaskan tentang bagaimana upaya bimbingan dan konseling menggunakan teknik restrukturisasi kognitif untuk mereduksi BDD pada siswa.

B.     Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud dengan BDD ?
  2. Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya BDD pada siswa ?
  3. Apa definisi teknik restrukturisasi kognitif?
  4. Bagaimana upaya yang dilakukan konselor untuk membantu mereduksi BDD pada siswa?
  5. C.    Tujuan Penulisan

Tujuan umum penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui upaya bimbingan dan konseling menggunakan teknik restrukturisasi kognitif untuk mereduksi BDD pada siswa. Sedangkan tujuan khusus dari penulisan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan tentang :

  1. Pengertian BDD
  2. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya BDD
  3. Pengertian teknik restrukturisasi kognitif
  4. Upaya yang dilakukan konselor dalam membantu untuk mereduksi BDD pada siswa.

BAB II

KAJIAN TEORETIS 

A.    Konsep Dasar Body Dysmorphic Disorder (BDD)

1.      Definisi Body Dysmorphic Disorder (BDD)

BDD awalnya dikategorikan sebagai dysmorphophobia. Istilah tersebut untuk pertama kalinya dimunculkan oleh seorang doctor Italia yang bernaa Morselli pada tahun 1886. Dysmorphophobia berasal dari bahasa Yunani, “dysmorph” yang berarti misshapen (terjadinya sesuatu yang salah) dalam bahasa inggris. Kemudian namanya diresmikan oleh American Psychiatric Classification  menjadi Body Dysmorphic Disorder.

Istilah BDD secara formal dalam Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorder (4th Ed). Untuk menerangkan kondisi seseorang yang terus menerus memikirkan kekurangan fisik minor atau bahkan imagine defect yaitu membayangkan kecacatan tubuh. Akibatnya, individu tidak hanya merasa tertekan bahkan juga melemahkan taraf berfungsinya individu dalam kehidupan sosial, pekerjaan dan bidang kehidupan lainnya (misalnya, kehidupan keluarga dan perkawinan).

Media kadang menyebutnya sebagai “Imagined ugliness syndrome” atau dikenal dengan gejala pencitraan buruk. Bdd dimasukkan kedala DSM IV (The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) dibwah somatization disorders. Keduanya merupakan gangguan tubuh (somatoform) yang disebabkan oleh pengaruh psikologis dan kesulitan emosional yang ditunjukkan dengan bentuk-bentuk perilaku tubuh tertentu.

Kata “soma” berasal dari bahasa Yunani yang memiliki persamaan istilah dengan “body”. Somatoform desorders merupakan lima gangguan besar yang saling berhubungan dengan tubuh (Bruno, 1989), penjelasannya sebagai berikut:

  1. Conversion isorder adalah suatu kapasitas kerusakan fisik yang disebabkan oleh konflik emosional.
  2. Hypocondriasis diartikan sebagai karakteristik gangguan mental yang kronis dan kecemasan yang irasional mengenai kesehatan.
  3. Somatization disorders adalah kerusakan fisiik yang ditandai oleh adanya kondisi saraf yang lemah dan kecapaian yang terus menerus karena konflik psikis.
  4. BDD merupakan bentuk gangguan mental yang mempersepsi tubuh dengan ide-ide bahwa dirinya memiliki kekurangan yang berarti pada wajah dan badannya sehingga kekurangan itu membuatnya tidak menarik.
  5. Somatoform pain disorders merupakan gangguan perasaan sakit tanpa alasan yang jelas.

Secara klinis, BDD merupakan bagian dari obsessive compulsive disorders (Watkins, 2006: Thompson, 2002). Kartini Kartono (1985:104) menjelaskan mengenai Obsesive Compulsive Disorder (OCD) sebagai berikut;

“Simptom reaksi obsesif-compulsif ialah kekacauan psikoneurotik dengan kecemasan-kecemasan, yang berkaitan dengan pikiran-pikiran yang tidak terkontrol, dan berhubungan dengan impuls-impuls repetitive untuk melakukan suatu perbuatan. Penderita sadar kalau pikiran kalau pikiran dan kecemasan itu sia-sia, tidak pantas/tidak perlu, abnormal, absurd dan tidak mungkin. Namun ia tidak mampu mengontrolnya…”

Secara sederhana, seorang yng mengalami gangguan BDD selalu mencemaskan penampilan karena merasa memiliki kekurangan pada tubuhnya (body image yang negatif). Body image adalah suatu pandangan internal seseorang mengenai penampilannya. “Body image is an internal view of one’s own appearance” (Thompson, 2002). Body image juga mengandung arti sebagai persepsi dan penilaian tubuh, fisik, dan penampilan seseorang terhadap dirinya sendiri (Taylor, 2003:525).

Definisi BDD dapat diindikasikan dengan gejala ketidakpuasan tingkat tinggi terhadap tubuh, pemikiran negatif atau hubungan kognisi terhadap bagian-bagian tubuh tertentu bahkan tingkatan yang tinggi dari penghindaran situasi sosial yang disebabkan peraasaan-perasaan negatif mengenai tubuh. “these measure may indicate high levels of body dissatisfaction, negative thoughts, or cognitions associated with certain body parts, or even high levels of social avoidance due to negative fee lings about the body” (Thompson, 2002).

Dengan demikian, BDD adalah gangguan pada seseorang yang mengalami tetidak-puasan terhadap beberapa bagian tubuh dengan tingkat tinggi, kecemasan yang ditunjukkan dengan perilaku obsesif-kompulsif, pikiran dan perasaan yang negatif mengenai tubuh, serta menghindari hubungan dan situasi sosial.

2.      Gejala Body Dysmorphic Disorder (BDD)

Bentuk-bentuk perilaku yang mengindikasikan BDD (menurut Watkins, 2006;Thompson, 2002; Wikipedia, 2006; Weinshenker, 2001; dan David Veale) adalah sebagai berikut.

  1. Secara berkala mengamati bentuk penampilan lebih dari satu jam per hari atau menghindari sesuatu yang dapat memperlihatkan penampilan, seperti melalui cermin atau kamera.
  2. Mengukur atau menyentuh kekurangan yang dirasakannya secara berulang-ulang.
  3. Meminta pendapat yang dapat mengukuhkan penampilan setiap saat.
  4. Mengkamuflasekan kekurangan fisik yang dirasakannya.
  5. Menghindari situasi dan hubungan sosial.
  6. Mempunyai sikap obsesi terhadap selebritis atau model yang mempengaruhi idealitas penampilan fisiknya.
  7. Berpikir untuk melakukan operasi plastic.
  8. Selalu tidak puas dengan diagnosa dematiologist atau ahli bedah plastik.
  9. Mengubah-ubah gaya dan model rambut untuk menutupi kekurangan yang dirasakannya.
  10. Mengubah warna kulit yang diharapkan memberi kepuasan pada penampilan.
  11. Berdiet secara ketat dengan kepuasan tanpa akhir.
  1. 3.      Aspek Body Dysmorphic Disorde (BDD)
  2. a.      Ketidakpuasan terhadap Bagian Tubuh

Ketidakpuasan sosok tubuh sendiri memiliki beberapa pengertian. Menurut Rosen dan Reiter (dalam Asri dan Setiasih, 2006) ketidakpuasan sosok tubuh adalah keterpakuan pikiran akan penilaian yang negatif terhadap tampilan fisik dan adanya perasaan malu dengan keadaan fisiknya ketika berada di lingkungan sosial. Ketidakpuasan sosok tubuh dapat diartikan sebagai pikiran dan perasaan negatif di mana seseorang sangat tergantung dengan tubuh dan membuatnya menarik, bahkan secara sederhana dapat dikatakan bahwa tubuh hanya berdasarkan tampilan saja (Kimberly, dkk, 2007).

Ketidakpuasan sosok tubuh juga diartikan sebagai evaluasi negatif terhadap tubuh terkait dengan bentuk tubuh atau berat badan. Ketidakpuasan sosok tubuh sendiri dianggap sebagai komponen pengganggu dalam berpenampilan (Sin dan Birchy, 2006). Berdasarkan pengertian-pengertian di atas ketidakpuasan sosok tubuh dapat didefinisikan sebagai perasaan tidak puas terhadap keseluruhan tubuh maupun karakteristik bagian tubuh sehingga timbul perasaan malu ketika berada di lingkungan sosial.

University of Vermont, melakukan serangkaian penelitian mengenai wanita. Hasilnya menyebutkan, “bagian tubuh yang paling tidak memuaskan wanita umumnya antara pinggang dan lutut” (www. hisyambasyeban. wordpress.com, oleh Rosen, 15 November 2006). Menurut Mary (2007) berdasarkan poling dari majalah Gracia di Inggris pada tahun 2006 diketahui bahwa bagian tubuh yang dibenci oleh remaja putri adalah pinggang, dada, kaki, dan wajah (Kawanku Nomor 07-2007, 12-19 Februari 2008).

Ketidakpuasan sosok tubuh yang dirasakan oleh remaja putri di Indonesia lebih banyak terjadi pada bagian-bagian tubuh tertentu seperti wajah, warna kulit, pinggang, paha (Ratnawati, 2000). Hal ini juga sesuai dengan hasil dari angket mini yang disebarkan penulis kepada 100 orang remaja putri berusia 18-21 tahun mengenai bagian tubuh yang kurang mereka sukai. Sebanyak 31% responden kurang menyukai bagian pinggang, 23% responden kurang menyukai perut, 18% responden kurang menyukai bagian paha, 15% kurang menyukai wajah, dan sisanya kurang menyukai bagian lengan, pantat, payudara. 

b. Kecemasan yang Ditunjukkan dengan Perilaku Obsesif-kompulsif

Menurut Katherine Philips, BDD pada umumnya mulai tampak ketika seorang individu dalam masa remaja atau pun awal masa dewasa (bisa jadi berawal sejak masa kecil, nemun selama ini tidak pernah terdeteksi). Pada masa inilah individu semakin memperhatikan perubahan yang terjadi pada dirinya (ukuran dan bentuk tubuh). Sangatlah wajar, jika remaja memperhatikan dan mencemaskan penampilannya, apalagi perubahan fisik yang semakin berubah.

Normalnya, kecemasan itu bersifat sementara dan akan memudar dengan sendirinya ketika remaja mampu membangun rasa percaya diri yang positif dan realistis-kongkrit melalui aktivitas dan pengalaman sehari-hari. Namun, ada juga yang semakin tenggelam dalam kepanikan dan kecemasan, karena mereka sangat menginginkan penampilan yang ideal, kecantikan, kelangsingan atau bahkan bagi remaja laki-laki menginginkan terliht kekar dengan memiliki bentuk tubuh yang proporsional, karena yang menjadi satu-satunya tolok ukur dalam hal itu adlah ideal diri http//:www.e-psikologi.com. 18 Oktober 2008).

Seperti penelitian yang dilakukan oleh Sim dan Zeman (2005) menyatakan bahwa ketidakpuasan sosok tubuh disertai ketidaksadaran emosional akan mengakibatkan gangguan makan pada remaja putri. Penelitian lain yang dilakukan Wolman, dkk (1994) menyatakan bahwa ketidakpuasan citra tubuh pada remaja dikarenakan sedikitnya kebahagiaan emosi yang mereka miliki. Pada remaja tidak mampu mengontrol emosi seperti sering merasa kecewa, sedih, serta marah sehingga dalam menilai tubuh atau fisik mereka hanyalah rasa tidak puas atau tidak suka.

Remaja yang mengalami ketidakpuasan sosok tubuh seringkali mengecek kondisi tubuhnya, seperti menimbang berat badan dan melihat tampilan fisiknya di depan cermin dengan frekuensi yang berlebihan. Sekitar 50% dari laki-laki dengan BDD kompulsif biasanya menghabiskan waktu tiga jam dalam sehari untik menyisir rambut, empat jam dalam sehari untuk berkeramas dan memakai pelembab rambut, serta satu jam dalam sehari menyikat gigi karena mereka cemas dan beranggapan bahwa dengan melakukan itu semua akan membuat sehat, padahal di balik itu tentunya akan berdampak buruk bagi kondisi tubuhnya (Journal Healthy Weight Vol.16, No.4, July/August 2002).

Lebih dari 20% laki-laki dengan BDD (mengelupaskan kulit mereka untuk membebaskan wajah mereka dari setiap ketidaksempurnaan). Ironisnya, berlebihan perawatan terhadap kulit dapat menyebabkan bahkan memperburuk kekurangan yang terjadi pada kulitnya. Satu pasien menggosok kulit kepala selama tiga jam sehari-hari karena ia mendengar bahwa stimulasi kulit kepala meningkatkan pertumbuhan rambut. Namun, hal ini menyebabkan kulit kepala luka, yang sangat dilihat orang lain. Pasien lain menutupi kekurangan cacat kulit dengan make up, yang tidak cocok dengan warna kulit, sehingga membuat orang lain melihat wajahnya. Dia percaya bahwa orang lain itu memandangnya karena make up tidak menutupi noda, sehingga ia membasuh wajah secara berlebihan, yang menyebabkan banyak iritasi kulit dan masalah kulit yang nyata.

Remaja yang mengalami ketidakpuasan sosok tubuh seringkali menyamarkan bentuk tubuh dari keadaan yang sebenarnya. Hal ini dilakukan untuk menenangkan hati.

c. Pikiran dan Perasaan Negatif Mengenai Tubuh

      Remaja yang mengalami ketidakpuasan sosok tubuh akan menilai secara negatif bentuk tubuhnya baik secara keseluruhan maupun bagian dari tubuhnya. Dampak lain yang disebabkan oleh pikiran dan perasaan yang negatif mengenai tubuh adalah berpikiran untuk melakukan diet yang berlebihan, tidak sesuai dengan standar kesehatan, melakukan olahraga sampai membuat tubuh lemas, bahkan tak jarang untuk melakukan bedah plastik. Menurut data statistik dari American Society of Plastic Surgeons (ASPA), hampir 11 juta prosedur bedah plastik kosmetik telah dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 2006 (www.wikipedia.com, oleh ASPA, 25 Agustus 2006).

      Hal tersebut sejalan dengan  fenomena yang terjadi di Indonesia, dimana menurut Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia (PERAPI) pada tahun 1999 sebanyak 249 kasus ditangani akibat suntikan silikon, khususnya silikon cair (www.swa.co.id, oleh Theddeus, 25 April 2007). Cara instan lainnya yang digunakan para wanita dalam mengatasi ketidakpuasan sosok tubuh (khususnya bagian wajah) ialah suntik botox. Menurut Samuel (2008) jika suntik botox tidak dilakukan dengan tepat akan mengakibatkan mata menjadi juling, kelumpuhan otot pernapasan, dan terjadi aspirasi pneumonia akibat makanan dan cairan masuk ke saluran napas dan paru-paru (Genie Edisi 44, 21-27 April 2008).

d.  Menghindari Situasi dan Hubungan Sosial

Pada umumnya, remaja yang mengalami ketidakpuasan sosok tubuh akan merasa malu terhadap bentuk tubuhnya bila bertemu ataupun berada di dalam lingkungan sosial. Hal ini dikarenakan individu tersebut merasa orang lain selalu memperhatikan tampilannya, sering merasa malas untuk mengikuti aktivitas sosial yang berhubungan dengan orang lain. Bahkan tidak jarang remaja melakukan penghindaran situtasi sosial (di lingkungan bermain, sekolah) dan hubungan sosial dengan cara menarik diri dan lebih bersikap apatis terhadap sekitar.

4. Faktor Penyebab Body Dysmorphic Disorder (BDD)

Sampai saat ini, belum ada penelitian yang memastikan penyebab BDD dengan jelas. Riwayat dilecehkan tubuhnya pada masa kanak-kanak, tidak dicintai orang tua, dan mempunyai penyakit yang mempengaruhi penampilan, jerawat misalnya, bisa dikategorikan menjadi penyebab gejala BDD. Jika diklasifikasikan, ada dua aspek yang masih menjadi dugaan penyebab BDD. Pertama, adanya ketidakseimbangan cairan kimia (hormon serotonin) di dalam otak, yang berpengaruh terhadap kapasitas obsesi. Kedua, adanya kemungkinan bahwa faktor-faktor sifat, psikologis, maupun budaya menjadi penyebab munculnya BDD, dengan alasan bahwa pencitraan diri yang muncul ke permukaan dengan konsep cantik dan tampan yang dipaparkan media sangat berlebihan. Pandangan cantik dan tampan muncul manakal seseorang terlihat berkulit putih, mempunyai bentuk tubuh yang ideal (hidung mancung, kulit mulus, dan sebagainya). Pandangan salah itulah yang membuat pergeseran pemikiran dan pengertian mengenai kecantikan atau ketampanan sehingga remaja dapat terperosok kearah BDD apabila remaja tidak mampu mengontrol dan menerima dirinya dengan positif.

B. Konsep Konseling Kognitif Perilaku

1. Definisi Konseling Kognitif Perilaku

Konseling Kognitif Perilaku merupakan sebuah pendekatan yang mengkombinasikan konseling kgnitif dan konseling behavioral. Pada pelaksanaannya konseling cognitive-behavioral therapy merupakan bentuk konseling yang menekankan kepada pentingnya penggunaan pikiran dalam perasaan dan tindakan individu. Konseling cognitive-behavioral therapy membantu individu belajar merubah perilaku, menenangkan pikiran dan tubuh sehingga merasa lebih baik, berfikir lebih jelas dan membantu belajar membuat keputusan yang tepat (Bush, 2003:1).

Konseling kognitif perilaku meyakini bahwasanya proses kognitif akan menjadi faktor penentu dalam menjelaskan bagaimana manusia berfikir dan bertindak. Inti dari terapi ini adalah lebih menitik beratkan pada perubahan tingkah laku melalui interaksi dengan diri sendiri dan perubahan sturuktur kognitif, yang menjadi fokus terapiCBTadalah pada presepsi diri, kepercayaan dan pikiran (otak).

Konseling kognitif perilaku mendapat pengaruh dari pendekatan kognitif terapi dan behavioral terapi. Terapi kognitif lebih mengacu pada pikiran, asumsi dan kepercayaan dengan tujuan memfasilitasi individu belajar mengenali dan mengubah kesalahan, mengubah pikiran irasional menjadi pikiran rasional. Terapi behavioral mengacu pada membangun hubungan antara situasi permasalahan dengan kebiasaan mereaksi permasalahan, dengan tujuan agar individu belajar mengubah prilaku, berfikir lebih jelas dan memutuskan dengan pilihan yang tepat. Dinamika kognitif yang tidak baik akan menghasilkan prilaku yang difungsional akan menciptakan perilaku yang negatif, pikiran negatif serta perasaan tidak nyaman dengan dampak: depresi, gangguan, serta kecemasan pada individu. Oleh karena itu semua perilaku yang bersifat difungsional ini direduksi olehCBTagar kembali menjadi normal.

2. Tujuan Konseling Kognitif Perilaku

Tujuan dari konseling Cognitive-Behavior (Oemarjoedi, 2003: 9) yaitu mengajak konseli untuk menentang pikiran dan emosi yang salah dengan menampilkan bukti-bukti yang bertentangan dengan keyakinan mereka tentang masalah yang dihadapi. Konselor diharapkan mampu menolong konseli untuk mencari keyakinan yang sifatnya dogmatis dalam diri konseli dan secara kuat mencoba menguranginya.

Tujuan konseling kognitif perilaku yaitu untuk memperbaiki keyakinan-keyakinan diri yang salah dengan cara mengubah pola fikir dan perilaku tertentu. Yang menjadi fokus dalam terapi ini adalah persepsi, kepercayaan dan pikiran. Dalam terapi kognitif, terapi ini memfokuskan pada pikiran, asumsi dan kepercayaan dengan memodifikasi fungsi berfikir, merasa, dan bertindak dengan menekankan peran otak dalam menganalisa, memutuskan, bertanya, bertindak dan memutuskan kembali. Dalam pendekatan aspek perilaku diarahkan untuk membangun hubungan yang baik antara situasi permasalahan dengan kebiasaan mereaksi permasalahan. Sehingga CBT ini mengarahkan konseli untuk dapat mengubah perilaku dengan mengubah fungsi berfikir menjadi lebih jelas, menenangkan pikiran dan tubuh agar menjadi lebih baik dan dapat mengambil keputusan dengan tepat. 

3. Fungsi Konseling Kognitif Perilaku

Konseling dengan pendekatan konseling kognitif perilaku (Nurmalasari, 2012) berfungsi memperbaiki pola pikir siswa menjadi lebih rasional dengan mengubah pikiran-pikiran siswa yang negatif tentang diri sendiri dan situasi-situasi di luar diri menjadi pikiran-pikiran positif. Setelah memiliki pikiran yang positif siswa dapat tidak akan melakukan penyimpangan perilaku.

4. Teknik Restrukturisasi Kognitif

Restrukturisasi kognitif adalah proses psikoterapi belajar untuk mengidentifikasi dan membantah pikiran irasional atau maladaptif, seperti berpikir semua atau tidak (membelah), pemikiran magis dan penalaran emosional, yang umumnya terkait dengan banyak gangguan kesehatan mental. Restrukturisasi Kognitif menggunakan banyak strategi, seperti pertanyaan Socrates, rekaman kognisi dan panduan citra digunakan dalam berbagai jenis terapi, termasuk terapi perilaku kognitif (CBT), dan terapi emotif rasional (RET).

Cognitive Behavioral Therapy (CBT) mendapat pengaruh dari pendekatan kognitif terapi dan behavioral terapi. Terapi kognitif lebih mengacu pada pikiran, asumsi dan kepercayaan dengan tujuan memfasilitasi individu belajar mengenali dan mengubah kesalahan, mengubah pikiran irasional menjadi pikiran rasional. Terapi behavioral mengacu pada membangun hubungan antara situasi permasalahan dengan kebiasaan mereaksi permasalahan, dengan tujuan afar individu belajar mengubah prilaku, berfikir lebih jelas dan memutuskan dengan pilihan yang tepat. Dinamika kognitif yang tidak baik akan menghasilkan prilaku yang difungsuonal akan menciptakan perilaku yang negatif, pikiran negatif serta perasaan tidak nyaman dengan dampak: depresi, gangguan, serta kecemasan pada individu. Oleh karena itu semua perilaku yang bersifat disfungsional ini direduksi olehCBT agar kembali menjadi normal.

Meichenbaum (1985) menyatakan Postulat dari restrukturisasi kognitif adalah perasaan negatif bersumber dari kekeliruan individu menginterpretasi lingkungan. Restrukturisasi kognitif memusatkan perhatian pada upaya mengidentifikasi dan mengubah kesalahan kognisi atau persepsi konseli tentang diri dan lingkungannya. Kesalahan kognisi tersebut diekspresikan oleh konseli melalui pernyataan diri yang negatif. Pernyataan diri negatif mengindikasikan adanya pikiran pandangan, dan keyakinan yang tidak rasional. Restrukturisasi kognitif menggunakan asumsi bahwa respons-respons perilaku dan emosi yang tidak adaptif dipengaruhi oleh keyakinan, sikap dan persepsi konseli. Sehingga pada akhirnya teknik restrukturisasi kognitif diharapkan dapat membantu siswa untuk mereduksi Body Dysmorphic Disorder.

C.Layanan Bimbingan dan Konseling untuk Mereduksi siswa yang mengalami Body Dysmorphic Disorder dengan Teknik Restrukturisasi Kognitif

Menurut Erikson (Clara R. P. 1993 : 42) keadaan fisik pada masa remaja merupakan suatu pembentukan identitas diri dan konsep diri. Lebih jauh Erikson menjelaskan bahwa perkembangan kepribadian dan pembentukan identitas merupakan perpanjangan komponen psikologis dan sosiologis pada diri manusia.

Perubahan fisik yang dialami remaja menimbulkan beberapa permasalahan seperti penerimaan yang kurang positif terhadap kondisi tubuh. Penerimaan diri yang kurang positif dikarenakan konsep diri yang negatif pada remaja tersebut. Perkembangan konsep diri ditentukan oleh cara anak menginterpretasikan perlakuan orang lain terhadap dirinya. Interpretasi yang mereka lakukan menentukan mereka akan memiliki konsep diri positif atau konsep diri negatif (Hurlock, 1992 : 239). Brooks dan Emmert (dalam Rahmat, 2005 : 105) menyatakan bahwa ada lima tanda orang yang memiliki konsep diri negatif, yaitu:

  1. Peka terhadap kritik. Ia sangat tidak tahan akan kritik yang diterimanya sehingga ia mudah marah. Koreksi seringkali dipersepsi sebagai cara untuk menjatuhkan dirinya. Ia menghindari dialog yang terbuka, dan bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan berbagai logika yang keliru.
  2. Sangat responsif terhadap pujian. Mungkin ia akan berpura-pura menghindari pujian. Tapi ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian.
  3. Hiperkritis. Bersamaan dengan kesenangannya terhadap pujian, ia bersikap hiperkritis pada orang lain. Ia selalu mengeluh, mencela, atau meremehkan apapun dan siapapun. Ia tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain.
  4. Cenderung merasa tidak disenangi orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan. Keyakinan ini menyebabkan ia menganggap orang lain adalah musuh sehingga tidak dapat bersikap hangat dan akrab dalam bersahabat. Ia tidak akan pernah mempersalahkan dirinya karena ia menganggap dirinya adalah korban dari sistem sosial yang tidak beres.
  5. Pesimis terhadap kompetisi. Ia enggan untuk bersaing dengan orang lain karena menganggap dirinya tidak berdaya.

Dasar konsep diri positif bukanlah kebanggaan yang besar tentang diri, tapi lebih pada penerimaan diri dan sama sekali tidak mengarah pada keangkuhan dan keegoisan. Seorang dengan konsep diri positif dapat menerima dirinya sendiri karena ia mengenali dirinya dengan baik sekali. Tidak seperti konsep diri yang terlalu kaku atau terlalu labil, konsep diri positif bersifat stabil dan bervariasi. Orang dengan konsep diri positif dapat menyimpan informasi negatif maupun positif tentang dirinya. Orang dengan konsep diri positif dapat menerima dan memahami sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya. Tak ada informasi yang merupakan ancaman bagi dirinya sehingga ia dapat menerima semua fakta tentang dirinya. Orang dengan konsep diri positif memiliki evaluasi diri yang positif pula karena ia dapat menerima keseluruhan dirinya secara apa adanya. Tidak berarti bahwa ia tidak pernah kecewa terhadap diri sendiri dan gagal. Dengan menerima dirinya sendiri, ia dapat menerima orang lain (Calhoun dan Acocella, 1995 : 73).

Burns (1993 : 77) mengatakan bahwa penyebab yang menghalangi terbentuknya konsep diri yang positif adalah banyaknya nilai diri negatif yang dibentuk pada masa-masa awal di bawah pengaruh orang yang dihormati (terutama orangtua), yang telah begitu kuat sehingga nilai-nilai tersebut sulit untuk diubah walaupun individu yang bersangkutan memiliki keinginan untuk mengubahnya. Orangtua yang penuh kasih sayang terhadap anak adalah dasar yang baik bagi pemikiran dan penilaian anak terhadap dirinya sendiri. Jika orangtua meremehkan dan menolak anak, sulit bagi anak untuk tidak menarik kesimpulan bahwa dirinya tidak berharga. Sherif dan Cantril (dalam Burns, 1993 : 78) menyatakan bahwa sekali sikap telah terbentuk, maka itu akan bertahan.

Restrukturisasi kognitif adalah salah satu teknik bimbingan dari konseling kognitif perilaku untuk membantu individu yang mengalami depresi, kecemasan, fobia, eating disorder, dan substance abuse. Fokus restrukturisasi kognitif adalah mengidentifikasi pemikiran negatif dan membangun jalan pikiran baru yang positif ( Dobson, dalam Anna, 2005).

Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling berupaya untuk mereduksi siswa yang mengalami Body Dysmorphic Disorder (BDD) dengan melakukan konseling dengan menggunakan teknik restrukturisasi kognitif untuk mengubah pemikiran-pemikiran negatif atau konsep diri negatif kearah konsep diri positif.

Berikut adalah tahapan implementasi restrukturisasi kognitif untuk mereduksi siswa yang mengalami Body Dysmorphic Disorder (BDD):

  1. Tahapan pertama : Assesmen dan Diagnosis

Asesmen dan diagnosis ditahap awal bertujuan untuk memperoleh  data tentang kondisi konseli yang akan ditangani serta mengantisipasi kemungkinan kesalahan penanganan pada proses konseling. Di tahap pertama dilakukan kegiatan sebagai berikut.

1)Penyebaran angket atau alat ukur mengenai Body Dysmorphic Disorder (BDD) kepada siswa untuk mengumpulkan informasi mengenai tingkat Body Dysmorphic Disorder (BDD) pada siswa.

2) Melakukan kontrak konseling dengan konseli supaya konseli mampu berkomitmen untuk mengikuti proses konseling dari tahap awal sampai tahap akhir.

  1. Tahapan kedua : Mengidentifikasi Pikiran-pikiran Negatif Siswa

Sebelum konseli diberikan bantuan untuk mengubah pikiran-pikiran yang mengalami disfungsi, terlebih dahulu konselor perlu membantu konseli untuk menyadari disfungsi pikiran-pikiran yang konseli miliki dan memberitahukan secara langsung kepasa konselor. Konseli didorong untuk kembali pada pengalaman dan melakukan intropeksi atau merefleksikan pengalaman-pengalaman yang sudah dilalui.

  1. Tahapan ketiga : Memonitor Pikiran-pikiran Siswa melalui Thought Record

Pada tahap ketiga, konseli dapat diminta untuk membawa buku catatan kecil yang berguna untuk menuliskan tugas pekerjaan rumah, hal-hal yang berhubungan dengan perlakuan dalam konseling, dan mencatat pikiran-pikiran negatif. Berikut adalah format yang diajukan untuk mencatat pikiran-pikiran negatif konseli.

Tabel 4.1

Rekaman Pikiran

Situasi

Pikiran yang Muncul

Emosi

(diberi tingkat intensitas 0-100)

Tindakan yang dilakukan

  1. Tahapan keempat : Intervensi Pikiran-pikiran Negatif Remaja menjadi Pikiran-pikiran yang Positif.

Pada tahap keempat, pikiran-pikiran negatif konseli yang telah terkumpul dalam thought record dimodifikasi. Beberapa hal yang mengenai pikiran-pikiran negatif meliputi hal-hal sebagai berikut (Dobson & Dobson, 2009 : 27).

1) Menemukan pikiran-pikiran negatif yang berhubungan dengan reaksi emosi yang kuat.

2) Menemukan pikiran-pikiran yang berkaitan dengan pola respon perilaku yang kuat.

3) Menemukan pikiran-pikiran yang memiliki tingkatan keyakinan yang tinggi.

4)Menemukan pikiran-pikiran yang berulang, karena pikiran-pikiran yang dikemukakan berulang-ulang menunjukkan pola berpikir konseli.

Pada awal mengintervensi pikiran-pikiran negatif konseli, secara umum terdapat tiga pertanyaan umum yang dapat digunakan, yaitu:

1) Apa bukti dari pikiran-pikiran anda?

2)Apa saja alternatif-alternatif pikiran untuk memikirkan situasi-situasi yang anda temui?

3) Apa saja pengaruh dari cara berpikir seperti itu? 

BAB III

PENUTUP 

  1. A.  Kesimpulan

BDD adalah gangguan pada seseorang yang mengalami tetidak-puasan terhadap beberapa bagian tubuh dengan tingkat tinggi, kecemasan yang ditunjukkan dengan perilaku obsesif-kompulsif, pikiran dan perasaan yang negatif mengenai tubuh, serta menghindari hubungan dan situasi sosial. Body Dysmorphic Disorder (BDD) diindikasikan dengan gejala ketidakpuasan tingkat tinggi terhadap tubuh, pemikiran negatif atau hubungan kognisi terhadap bagian-bagian tubuh tertentu atau bahkan tingkatan yang tinggi dari penghindaran situasi sosial yang disebabkan perasaan-perasaan negatif mengenai tubuh (Thompson, 2002).

Meichenbaum (1985) mengungkapkan Postulat dari restrukturisasi kognitif adalah perasaan negative bersumber dari kekeliruan individu menginterpretasi lingkungan. Restrukturisasi kognitif memusatkan perhatian pada upaya mengidentifikasi dan mengubah kesalahan kognisi atau persepsi konseli tentang diri dan lingkungannya. Restrukturisasi kognitif adalah salah satu teknik bimbingan dari konseling kognitif perilaku untuk membantu individu yang mengalami depresi, kecemasan, fobia, eating disorder, dan substance abuse. Fokus restrukturisasi kognitif adalah mengidentifikasi pemikiran negatif dan membangun jalan pikiran baru yang positif ( Dobson, dalam Anna, 2005).

  1. B.  Rekomendasi
  2. 1.    Bagi Sekolah

Pihak sekolah menerapkan program bimbingan konseling untuk mereduksi kecenderungan Body Dysmorphic Disorder (BDD) pada siswa. Selain itu dapat diterapkan pula layanan dasar dan layanan responsive bagi siswa yang mengalami kecenderungan BDD. Hal ini penting karena kecenderungan BDD sangat mengganggu proses perkembangan pribadi-sosial sekaligus belajar mengajar siswa di sekolah dan di luar sekolah. Selain itu, mengundang seorang ahli yang paham mengenai BDD ke sekolah sangat direkomendasikan dan sebaiknya dilakukan secara rutin.

  1. 1.    Bagi Konselor

Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling berupaya untuk mereduksi siswa yang mengalami Body Dysmorphic Disorder (BDD) dengan melakukan konseling dengan menggunakan teknik restrukturisasi kognitif untuk mengubah pemikiran-pemikiran negatif atau konsep diri negatif ke arah konsep diri positif. Konselor harus terus menambah wawasan seputar fenomena BDD serta upaya preventif maupun interventif yang dapat dilakukan dalam rangka mencegah, mereduksi bahkan mengatasi kecenderungan BDD pada siswa, misalnya dengan mengikuti kegiatan seminar tentang remaja dan permasalahan seputar BDD.  

DAFTAR PUSTAKA

ABKIN. 2008. Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

Afam. 2011. Cognitive Restructure. [Online]. Tersedia:  http://afamboys.blogspot.com/2010/10/cognitive-restructuring.html (diunduh pada tanggal 25 September 2012).

 Agustiani, Hendriati. (2009). Psikologi Perkembangan (Pendekatan Ekologi kaitannya dengan Konsep Diri dan Penyesuaian Diri pada Remaja. Bandung: PT Refika Aditama.

 Ananta, Aliffia. 2010. Hubungan Antara Penerimaan Diri dengan Kecenderungan Body Dysmorphic Disorder. Skripsi pada program sarjana Universitas Airlangga, Surabaya : Tidak Diterbitkan.

Argi. 2010. Terapi Kognitif-Behavioral . [Online]. Terdapat di: http://argitauchiha.blogspot.com/2010/02/terapi-kognitif-behavioral.html(diunduh pada tanggal 25 September 2012).

 David, Jonathan. (2002). Psikologi Sosial. Jakarta : Erlangga.

 Dobson, Deborah & Dobson, Keith S. 2009. Evidance-based Practice of Cognitive Behavioral Therapy. New York. The Gulford Press.

 Hurlock, E.B. (1993). Psikologi perkembangan: suatu pendekatan sepanjang tentang kehidupan. (Ahli Bahasa: Istiwidayanti & Soejarwo). Jakarta: Erlangga.

 Jack J. Phillips. 1983. Handbook of Training Evaluation Measurement Methods. Texas : Gulf Publishing Company.

 J.Kevin Thompson. 2002. Body Image and Body Dysnorphic Disorder. [online]. Tersedia: http//www.ahealth.com/consumer/disorder/BDDinterview.html. [12 September 2012].

 Monks, dkk. (2004). Psikologi perkembangan pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 Nelson. 2010. CBT techniques, part 1:  Cognitive restructuring. Terdapat di: http://www.kstate.edu/paccats/Contents/Stress/Cognitive20Restructuring.pdf(diunduh pada tanggal 25 September 2012).

Nurmalasari, Yuli. 2011. Efektivitas Teknik Restrukturisasi Kognitif dalam Menangani Stress Akademik Siswa. Bandung. Skripsi Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan-Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak Diterbitkan.

Nurzaakiyah, Siti. 2010. Efektivitas Teknik Self-management dalam Mereduksi Body Dysmorphic Disorder (BDD) Remaja. Skripsi pada program sarjana UPI Bandung:tidak diterbitkan.

Oemarjoedi, Kasandra. 2004. Pendekatan Cognitive Behavior Dalam Psikoterapi. Jakarta : Creatif Media.

Papalia, D E., Olds, S. W., & Feldman, Ruth D. 2001. Human development (8th ed). Boston: McGraw-Hill.

Santoso, Slamet. (2010). Teori-teori Psikologi Sosial. Bandung: PT Refika Aditama.

Santrock J. W. (2007). Life-span development: perkembangan masa hidup. Jakarta: Erlangga.

Sobur, Alex. (2003). Psikologi umum. Bandung: Pustaka Setia.

Solihat, Iin Siti. 2011. Efektivitas Teknik Restrukturisasi Kognitif untuk Mereduksi Kecemasan Sosial Remaja. Skripsi Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan-Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak Diterbitkan.

Rahmayani, Roza. 2011. Pengembangan Program Konseling untuk Siswa yang Mengalami Kecenderungan Body Dysmorphic Disorder (BDD) dengan Menggunakan Teknik Self-Management. Skripsi Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan-Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak Diterbitkan.

Universitas Pendidikan Indonesia. 2011. Pedomen Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Bandung: UPI Press.

Yusuf, Syamsu dan Nurihsan, A Juntika. 2008. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung : Rosda.

Trip at Yogyakarta Part 1

Posted in Catatan Hati

Sebenernya ke jogjanya waktu tanggal 1 November 2012. tapi baru diposting sekarang.. hahaha

Kamis, 1 November 2012

Berangkat malem-malem abis magrib. personilnya itu saya, umi, ovi, siti, widia sama hikmah. karna widia rumahnya di buah batu, dia udah nunggu duluan di stasiun kircon. nah, dari mulai saya dengan membawa tas gendong berisikan laptop dan dokumen2 penting buat ngerjain tugas disana kemudian ketemuan sama ovi di DT, udah gitu nunggu hikmah, umi sama siti di depan limamu. Kaget banget ngeliat hikmah cuman bawa 2 tas dan umi bawa koper -,- hahahaha

dari gerlong kami naik angkot jurusan margahayu ongkos perorangnya 5000 rupiah saja. sesampainya di depan stasiun kircon. berhubung saya sama siti belom makan dari SD, jadi kami memutuskan untuk makan karena ternyata kita nyampe nya 1 jam lebih awal. akhirnya saya, siti dan umi berhenti di kedai soto buat makan dan ovi serta hikmah ke stasiun soalnya widia udah ada disana. sambil nunggu pesenan kami ngobrol ngaler-ngidul kemudian SKSD sama mas-mas tegal, setelah makanan yang dipesan sampai ditangan kami. dengan mata berbinar-binar karena senang menemukan makanan, seketika itu makanan akan saya masukan kedalam mulut saya yang kelaparan seketika itu bunyi klakson kereta api berbunyi donkkkkk…. -_-

Bukannya langsung makan, malah bengong celangak-celenguk dan saling bertatap-tatapan. berhubung umi yang riweuh karena pertama kalinya naik kerete api, jadi saya sama siti makan soto dan pecel lele itu dengan sangat beringas. disela-sela proses makan kami yang superdupervery cepatnya, si umi riweuh banget. alhasil saya sama siti menyudahi makanan, walaupun masih maksain masuk-masukin itu soto sama pecel lele. belum juga dibayar umi udah narik-narik baju, sambil lari-lari ke arah stasiun kircon. saya yang kepedesan dan ga sempet minum sambil meluk-meluk tas yang segede alaihim kemudian sity dengan tas ranselnya yang sangat berat luar biasa sambil ngemilin sisa-sisa daging lele.

And than, sesampainya dipintu masuk. sangat menohok hati dan berkeinginan buat goyangin kepala ala tina toon sambil gaya lilin udah gitu nyaltoin si umi -,-… ternyata suara klakson kereta api yang kami denger bukan kereta yang bakalan ngangkut kita ke jogja udah gitu waktu pemberangkatan kita setengah jam lagi. kesel, gendok dan lada setengah mati, tapi karena udah ga kuat jalan akhirnya kami berenam duduk lesehan ditengah jalan eh di lobi stasiun.

Secarik kertas ajaib mempertemukan saya dengan jogja ♥

Akhirnya kereta kami tiba. walaupun dengan menggunakan kereta api tingkat ekonomi yang hanya 35.000 dengan muka cerah dan hati kenyang kami masuk ke keretanya, kami cari tempat duduk daaaan semuanya tidur kecuali saya. Mungkin karena seneng dan ga bisa dideskripsiin besok paginya bakalan menginjakan kaki di jogja untuk pertama kalinya, yang ada di otak saya hanya jogja beserta keindahannya. rasanya udah ga sabar pengen cepet-cepet pagi dan menghirup udara jogja. Panasnya kereta kelas ekonomi, padetnya para pengguna kereta kelas ekonomi malah bikin saya makin semangat dan ga sabar tibaa di kota romatis itu.

Pagi harinya, dengan semangat menggebu-gebu saya sholat subuh kemudian membangunkan teman-teman yang lain. bahagia luar biasa ketika melihat mentari terbit, senyum lebar sampai gigi saya kering yang mengiringi detik-detik sebelum sampai di tanah jogja. Ketika kereta api berhenti di stasiun Lempuyangan semangat saya semakin membara udah ngalahin para pahlawan haha… rasanya pas turun dari kereta pengen ngeliat ekspresi muka saya, soalnya kata temen-temen ekspresi muka dan gaya saya udah kayak sakhrul khan pas turun dari helikopter di film kabhi khusi kabhi ghum hahaha…

Sesampainya di jogja kita dijemput sama juned, pacarnya ovi. udah gitu kita sewa semacam mobil kijang buat membawa kami dan barang bawaan kami ke penginapan, harga sewa mobil sekitar 35.ooo. akhirnya kami sampai di penginapan hotel indonesia indah dengan biaya 1 kamar dengan 2 kasur untuk 3 orang itu 100.000.

hikmah, widia, saya dan umi di depan hotel indonesia indah dah dah…..

pertama kalinya makan nasi kucing di jogja

Makan nasi kucing bersama siti dan umi dibawah pohon ini

Suasana Marloboro dipagi hari

Para pengamen jalanan di depan pasar Beringharjo

Siti bersama Umi

hikamh, umi, siti dan saya berfoto di gerbang Vredeburg

Saya, hikmah, widia dan siti berfoto di museum Vredeburg

berfoto bersama siti, widia, hikmah, umi dan ovi di taman pelangi jogja

siti, saya, ovi dan umi di bawah lampu pelangi

Akhirnya setelah main di taman pelangi, kita cuss ke alun-alun kidul.. disana makan sate, makan baso bakar sama sepedaan.. tapi sayang tidak sempat untuk didokumentasikan… Sesampainya di hotel kami semuaaa tepar dan mempersiapkan buat petualangan esok hariiii….

-to be continued-

Sahabatku “sayang”

Posted in Catatan Hati

Entahlah, bingung harus mulai cerita darimana.  Ya, tentunya dari perasaan ini. perasaan yang tiba-tiba merasa ada yang kurang, hilang dan melebur.  Perasaan yang dulu saya bingkai sedemikian rupa rapinya, hingga belum tercium baunya oleh siapapun. Tapi kini saya rasa perasaan yang saya sembunyikan sudah menjadi rahasia umum antara saya dengan dia. Dia sosok sahabat yang benar-benar berprilaku seperti idealnya sahabat, sahabat yang selalu mendengarkan keluhan, kemanjaan bahkan mungkin obrolan-obrolan jelek yang saya ungkapkan untuk orang lain. Dan hanya kepada sosok dialah saya bisa benar-benar nyaman dan sangat-sangat terbuka dengan apa yang saya rasakan saat itu. dan dia selalu menyempatkan waktunya untuk sekedar meladeni keluhan-keluhan yang memang tidak bermutu. tapi dia tidak pernah sama sekali marah atau kesal ketika saya mengganggunya. dan mungkin karena sikapnya yang begitu baik, membuat saya merasa nyaman ketika berkicau tentang apapun kepadanya, saya benar-benar jadi diri sendiri dan itu yang membuat saya memiliki perasaan yang khusus untuknya.

Oke, kadang saya berpikir irasional ketika saya merasakan perasaan itu. How can? Bagaimana bisa? ya, bagaimana bisa saya menyukai dia yang bertatap muka secara langsung pun ga pernah, mendengar suaranya ditelepon pun hanya dua kali, bagaimana bisa timbul rasa ini? semakin saya merenungi hal itu, semakin kuat perasaan saya kepada dia. suatu ketika saya gak sengaja bilang kalau saya punya rasa buat dia, tapi dia mengiranya itu hanya guyonan dan bercandaan saya. mendengar hal itu, saya jadi semakin yakin untuk menutup bahkan mengubur rapat2 perasaan ini. perasaan yang hanya akan memberikan pengharapan-pengharapan kosong dan ujungnya hanya menyakitkan.

Sampai ketika saat itu tiba, saat dimana dia seakan-akan menjauh dan menghindari saya. tak jarang sma saya tidak dia balas, tak jarang juga ketika kita sedang sms-smsan dia tidak membalasnya dan saya dengan setia serta sabar menunggu balasannya sampai pagi tiba, akan tetapi dia masih tidak membalasnya. merasakan hal itu saya mencoba untuk mengerti dia dengan pikiran-pikiran yang positif. mungkin dia sibuk, mungkin dia tidak punya pulsa atau mungkin dia kelelahan sehingga tidak sempat membalas sms dari saya.

Pikir saya, dia seperti itu hanya beberapa waktu saja sampai dia merasa lebih baik. ternyata, pikiran saya bertolak belakang dengan kenyataan. dia tetap saja begitu, dan saya benar-benar merasakan ada hal yang berbeda dengan nya. karna saya kesal untuk selalu menunggu balasannya, saya kesal ketika saya ingin curhat kepadanya tapi sekarang dia ga ada, ga jarang saya marah-marah kepada dia karna sikapnya yang menjadi berubah dan tak jarang juga saya menangis kesal karnanya. saya akui semenjak dia berubah, saya selalu marah kepadanya, saya selalu kesal dan mungkin hal itu yang membuat dia muak dengan diri saya.

Dan semenjak itu sampai detik ini kami benar-benar tidak berkomunikasi. awal-awalnya sih saya menerima ketika dia tidak lagi menyapa saya lewat sebuah text message. akan tetapi, ternyata itu bukan sehari, duahari bahkan satu minggu. hingga akhirnya sebulan, duabulan dan sampai sekarang dia tidak pernah lagi menyapa saya. Sayapun tidak berani untuk mengirim pesan duluan, entah kenapa. tapi yang saya takuti adalah sms saya tidak dia balas dan tidak dia baca. saya benar-benar takut. setelah lewat sebulan saya dengan dia tidak berkomunikasi, saya iseng membuka socmedia facebook, seketika saya senang sekali karna saya melihat dia sedang online. harap-harap dia akan menchat saya, dan saya menunggu hal itu sampai akhirnya dia offline. rasanya itu kecewa sekali, saking kecewanya saya menangis. Iya, itu konyol tapi saya benar-benar kecewa. gak mungkin banget kalau dia ga ngeliat saya sedang online.

Saya memang ga berhak untuk menuntut dia selalu berkomunikasi dengan saya, karna saya hanya teman atau sahabat dunia mayanya. saya hanya sosok dunia maya yang dekat dengannya. saya hanya benda dunia maya yang mempunyai perasaan kepada dia. Jadi, apa perlunya saya marah-marah kepada dia ketika dia tidak menghubungi saya lagi. Mungkin itu saya dimana dia, tapi dia di mata saya itu adalah salah satu semangat saya. Walaupun dia jauh dan saya tidak pernah bertemu dengan dia ketika dia mengirimi saya sms, saya benar-benar merasa bersemangat dan suasana hati saya benar-benar bahagia. Tapi sekarang, semangat saya itu pudar dan hilang.

Yah, mungkin ini adalah bentuk pelajaran untuk hidup saya. Biasanya saya mempunyai tempat mengeluh, manja, meluapkan marah dan bercerita tentang apa yang sudah terjadi dihidup saya. tiba-tiba tempat itu hilang, entah karna saya yang tidak sengaja menghilangkannya, entah hilang diambil orang atau mungkin memang seharusnya itu hilang. mungkin saatnya saya harus bisa mengatur diri saya, mengatur emosi saya dan mengatur hati saya. Sama sekali tidak menyalahkan bahkan membenci dia yang pergi menjauhi saya, tapi mungkin saja ini karena sikap saya selama ini.

Sahabatku, sayang. Terimakasih untuk semua waktu, perhatian, kasih sayang dan kenyamanan yang sudah kamu berikan kepada saya. Kesalahan saya memiliki perasaan yang tidak seharusnya hadir dalam pertemanan kita. Kamu yang sekarag adalah pilihan. tapi, saya yang sekarang masih belum bisa menghapuskan kamu dihati saya adalah kenyataan.